Wednesday, May 18, 2011

It’s Not a Crime to Fall in Love Again…


Benarkah setelah menikah kita hanya boleh jatuh cinta pada orang yang sama seumur hidup kita…??? Apa benar jatuh cinta lagi bukan pada pasangan adalah kejahatan… ??? Kata salah seorang sahabat, kalimat ini provokatif… (Sepertinya bakal banyak yang ga trima dengan statemen saya.. dan bersiap mengeluarkan catatan berisi uraian lengkap tentang penyakit hati…).

Cinta koq dibilang penyakit hati…???

Mungkin banyak yang lebih setuju kalau saya katakan, jatuh cinta adalah hak setiap manusia untuk menjadikan hidupnya terasa lebih hidup. Berlaku buat siapapun yang ingin merasa ‘hidup’, bukan hanya monopoli para gadis dan jejaka yang belum terikat pernikahan, tapi hak ini juga dimiliki setiap wanita dan pria yang sudah menikah.

Tetapi masalahnya, bagaimana jika orang yang hidup bersama kita tidak mampu membuat kita jatuh cinta padanya lagi dan lagi…?? Atau kita tidak cukup PD dengan kemampuan diri untuk memikat pasangan hingga dia jatuh cinta lagi pada kita..?? Apakah kemudian kita kehilangan hak untuk jatuh cinta lagi…?? Betapa menyedihkannya, sebuah dunia tanpa gemerlap cinta.. Apakah pernyataan ini melanggar pagar norma…???

Sedangkan jatuh cinta dapat menghasilkan energi yang sangat dahsyat. Ada potensi kuat untuk tercipta bahagia di sana. Ada debar penuh warna yang membuat kita seakan terhanyut alunan nada surgawi. Selalu ada hiasan rindu dan bias harapan akan hari yang ceria penuh warna. Tetapi itu kan situasi taman para pecint a di puber pertama…??? Bagaimana dengan kita yang mulai merasa lusuh dimakan usia, saat semangat dan raga tak lagi membawa gelora rasa…???

Beberapa inbox yang masuk ke saya akhir-akhir ini menceritakan betapa kehidupan pernikahan begitu sarat prahara. Seakan tinggal rutinitas yang kehilangan bahan bakar untuk kobaran api cinta di dalamnya. Maka ketika tiba-tiba masuk bias cahaya baru dari kerlingan cinta yang lain. Ada denyut dan gelegak yang kembali mengharu-biru siap menyambut dengan tangan terbuka. Ada hati yang sarat harap dan penuh cemas ingin bernyanyi kembali dan terbuai tinggi dalam alunan rasa cinta yang menggoda. Salahkah..???

Pernikahan yang kita jalani terkadang menemui jalan buntu, tak kunjung membuahkan bahagia, dan penuh diliputi rasa hambar yang menyiksa. Padahal diri kita termasuk yang dicipta dengan kobaran gairah menggelegak sebagai bahan bakar. Kemudian buah hati lahir satu per satu menghiasi kehidupan, meski mereka menghadirkah bahagia tapi kadang masih ada melodi sumbang mendentang di dasar hati yang kesepian. Apakah kemudian salah jika yang tidak bahagia itu membiarkan dirinya terhanyut dalam pusaran rasa indahnya jatuh cinta lagi. Mereka hanya ingin bahagia…?? Siapakah yang bertanggung jawab untuk membahagiakan diri mereka, sedang pasangannya seakan tidak pernah tau apa yang mereka butuhkan…??

Nasehat klise sering langsung terucap, manakala berhadapan dengan sosok yang dirundung Asmara ini : Istighfarlah, Kembalilah kepada Allah, Ikhlas dan Sabar, Bersyukurlah dengan apa yang dimiliki, Lihatlah orang yang hidupnya lebih sulit. Begitu mudah meluncur, digunakan banyak orang yang lebih ‘dekat’ dengan Sang Pemilik Hidup sebagai saran… Sayangnya ga semua orang bisa seberuntung itu merasakan secara otomatis hubungan bebas hambatan dalam Iman dan Taqwa sehingga semua kebutuhan hatinya dapat terpenuhi dengan lengkap. Ketika kalimat di atas di sampaikan ke teman-teman yang tengah dirundung ‘Pelangi Cinta’, apa yang akan terjadi..?? Bukan hal mudah mengajak orang mabuk untuk beribadah…

“Wahai teman yang tengah dirundung prahara.. Apakah hatimu tengah menjerit mengharap haknya akan kasih sayang..? Adakah sabar dan ikhlas masih sebatas kata yang dipaksakan rasanya karena ingin Cinta dariNya. Apakah dirimu begitu dahaga hingga tak terasa ketika godaan datang padamu…?”

Saat jatuh cinta lagi hadir sebagai emergency exit karena ingin bahagia, mungkin memang hanya jalan itu yang berhasil dilihatnya dan kebetulan juga saat itu ada obyek untuk menambatkan hati dan berbagi rasa di sana. Bagaimana dengan pernikahannya, apakah begitu saja harus dihempas dan dilupakan…? Sedang untuk nurani yang masih menyala rasa seperti ini pasti berbuah sesal yang dapati menghancurkan keseluruhan diri…

“Kita hanya manusia, yang dicipta penuh potensi berbuat salah, sedang syetan dan iblis dengan segala cara menggoda. Iman pun terkadang naik dan turun. Apakah kita kan membiarkan hati mengharu biru, ketika jatuh cinta terasa sebagai ancaman..?? Ada benci dan rindu terkandung di dalamnya. Betapa ingin katakan Kucintai cinta dan kurindukan rindu. Andaikan semua bisa menyatu dengan belaian nafas penuh sayang dalam naungan bahagia yang hakiki. Pelabuhan terindah dalam gemerlap hati.”

Padahal cinta adalah gerakan hati di dalam jiwa yang sarat kehidupan. Hal terhebat tentang cinta, keberadaannya adalah untuk membangun kehidupan, bukan menghancurkannya. Ketika terjadi kasus Jatuh Cinta di kala usia tak lagi belia dan kehidupan telah terisi begitu banyak nama yang tak mungkin kita lepaskan. Bukankah ini adalah cara alam mengajak kita berkenalan lagi dengan cinta dan posisinya di dalam sejatinya diri. Cinta selalu bergetar di tempat yang sama dalam hati. Untuk siapapun kita simpan cinta itu, dan fungsinya adalah untuk memuliakan kehidupan bukan menghinakannya.

Seharusnya kita bisa menjadikan moment jatuh cinta untuk belajar mencintai kehidupan yang sesungguhnya. Mengenali wujud cinta itu akan menuntun kita pada bentuk bahagia yang ingin kita punya dan memperjuangkannya. Saat kita tahu seperti apa bahagia yang mungkin diperjuangkan di situ kita belajar tentang kualitas diri. Semakin kita bahagia semakin kita menyukai diri kita, saat itu kita menemukan kenyataan penting. Mengenali kualitas dan membangun kebahagiaan diri adalah gerbang untuk dapat mencintai diri kita.

So, Jatuh Cinta di puber kedua itu adalah tonggak kehidupan yang sangat penting dalam sejarah hidup kita. Jika kita gagal menyikapinya maka kesempatan kita untuk mencintai diri akan tersia-sia. Bahkan resikonya hidup kita bisa dihancurkan oleh aliran cinta yang tidak pada tempatnya. Cinta yang begitu indah, dihadirkan untuk mengawali dan memuliakan kehidupan bisa jadi terlarang dan dituduh sebagai penyakit hati yang menyimpannya. Karena sang pecinta memformulasikannya dengan tuntutan emosi dan pemenuhan nafsu duniawi untuk mereguk kebahagiaan yang semu.

Fitrah setiap manusia untuk berusaha mendapatkan cinta dan mencari bahagia. Padahal bahagia hanya perlu ditemukan. Karena adanya di dalam diri yang menyimpan banyak cinta. Hidup adalah karunia dan cinta adalah anugerah. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Hanya dengan berbekal cinta kita dapat menyentuh cinta. Jika hati ini penuh terisi cinta akan mudah menghiasinya dengan kerinduan yang kan berkembang menjadi romantisme tanpa batas. Keberlimpahan cinta yang kita miliki pada gilirannya akan menghadirkan aliran mata air cinta yang menyejukan kehidupan dalam rumah tangga.

Maka bagi siapapun yang tengah merasa dirundung prahara karena Jatuh Cinta lagi, berbahagialah karena cinta telah datang dan memanggilmu untuk berbuat sesuatu pada diri dan lingkungan untuk jadi lebih bahagia… Kuncinya, jangan bendung cinta itu. Hanya saja pastikan untuk mengalirkannya ke tempat yang benar. Hingga dapat menghadirkan kebahagiaan yang hakiki. Sosok bahagia yang penuh cinta adalah tambatan hati yang menawarkan bahagia, gairah dan damai dalam satu paket lengkap untuk siapapun yang berada di dekatnya. Semoga kita semua dapat menemukan sosok itu di dalam diri dan menjadi penuh manfaat karenanya…

“To love yourself right now, just as you are, is to give yourself heaven.

Don't wait until you die. If you wait, you die now. If you love, you live now “

~ Alan Cohen~

Get Smarter Everyday…

/lym 18/05/2011

from : Arifah Handayani


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.