Tuesday, March 1, 2011

Makna Cinta


Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu kasih sayang dari-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah turunkan salah satunya ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air dari tempat yang sama.” (Kanzul-Ummal, hadis no. 10464)

Pada awal kehidupan kita, cinta Tuhan menitipkan kita pada kasih sayang seorang ibu. Dimana dalam buaiannyalah kita dibesarkan dan diberikan awal dari pengetahuan. Dengan bimbingannya kita dapat mengenal dasar – dasar dari kehidupan dan awal dari arti cinta. Cinta yang luhur, dimana tidak ada harapan akan sesuatu dari pengorbanannya. Seorang ibu yang baik tidak akan pernah mengharapkan balas cinta dari seorang anaknya dengan harap suatu saat anak tersebut akan menjadi sumber keuntungan baginya. Yang dia harapkan hanyalah kebahagiaan bagi si anak tersebut yang ia lahirkan dengan pengorbanan yang mempertaruhkan nyawanya. Seorang anak lahir sebagai buah cinta dari ayah dan ibunya. Cinta dari kedua orang tuanya melahirkan perpaduan kasih dalam bentuk seorang manusia baru yang akan meneruskan cinta mereka pada seluruh alam. pada awal kehidupannya dimana seorang bayi hanya mampu bergerak dan mengenal dunia dengan segala keterbatasannya. Cinta seorang ibu menuntunnya kepada titik – titik awal kehidupan. Dimana saat ia beranjak dewasa. Ia akan berusaha untuk meraih cintanya sendiri.

Cinta antara sepasang kekasih ialah cinta yang paling indah yang menghiasi dunia ini. Mengisi tiap - tiap buku para filusuf, mengisi tiap - tiap bait syair para pujangga, mengisi tiap – tiap tema lagu para penyanyi, dan menjadi inspirasi bagi tiap – tiap lukisan para seniman. Dan mengisi tiap – tiap relung hati setiap insan. Adalah fitrah bagi setiap manusia untuk mencari pasangan yang sesuai untuknya. Adalah sebuah kebahagiaan yang sangat besar bagi seseorang untuk dapat menemukan pasangan hidupnya. “Bila di dunia ini ada surga. Surga itu adalah pernikahan yang bahagia.” (Marie von Ebner – Ecshenbach)

Burayd al-Ijli mengatakan, “Saya ada bersama Imam Muhammad al-Baqir as, dan di sana hadir juga seorang musafir dari Khurasan yang telah menempuh perjalanan jauh itu dengan jalan kaki. Ia beroleh kehormatan untuk bertemu dengan Imam itu. Sepatunya yang berlubang – lubang, sehingga bagian – bagian kakinya yang luka Nampak menonjol, telah ditanggalkannya. Dia berkata, “Wallahi, satu – satunya yang membawa saya dari sana ke sini adalah cinta kepada Anda, Ahlulbait.” Imam berkata, “Demi Allah, andai sebungkah batu mencintai kami, Allah akan mempersatukan dan menggabungkannya dengan kami, Apakah agama bukan cinta?” (Safinant ul-Bihar, I. hlm 102).

Seseorang berkata kepada Imam Ja’far as-Shadiq, “Kami telah memberi nama anak kami menuruti nama Anda dan para leluhur Anda; apakah perbuatan ini memberi faedah pada kami? Imam berkata, “Tentu, Demi Allah, apakah agama bukan cinta? Lalu beliau mengucapkan ayat, “Jika kamu (benar – benar ) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengisi dan mengampuni dosa – dosamu,” sebagai nashnya. (Safinant ul-Bihar, hlm 662)

Pada dasarnya, Cinta yang membawa pada ketaatan. Imam Ja’far as-Shadiq as berkata, “Membangkang kepada Allah sambil mengaku bahwa engkau mencintai-Nya? Demi hidupku, ini ajaib! Apabila cintamu sejati, pasti engkau akan mematuhi-Nya, karena pecinta patuh pada yang dicintainya.” Salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt yang paling nyata dan mudah terlihat di dunia kepada seluruh manusia ialah diciptakannya wanita. Bahkan ia tidak diturunkan khusus bagi kaum tertentu. Mengapa wanita ialah makhluk ciptaan Allah yang mulia? Karena Allah telah menitipkan ciptaannya dalam Asmaul Husna. Ar Rahim, yang dititipkan pada wanita. Dari rahim wanitalah dilahirkan manusia – manusia yang terlahir suci. Apa Allah tidak mampu menciptakan manusia secara langsung? Tentu mampu, namun Allah mempercayakan manusia itu untuk dilahirkan oleh seorang wanita. Oleh seorang Ibu, manusia – manusia dibesarkan dan dibentuk karakternya, dididik tentang kehidupan, agar siap menjalani beratnya pencarian. Mengapa Allah memperintahkan wanita untuk menutupi aurat tubuhnya? Karena Allah telah menitipkan Asmaul Husna kepadanya, sesuatu yang oleh kaum pria adalah sangat sulit untuk dicapai. Namun dititipkan langsung kepada wanita. Oleh karena itulah Allah memerintahkan kaum wanita untuk menjaganya dari dirinya sendiri maupun dari selainnya. Apa wanita itu menjaga amanatnya, atau merelakan amanat itu direndahkan, atau malah dengan sukarela merendahkannya sendiri.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Wanita mampu menarik perhatianmu dan nafsumu meskipun ia hanya lewat di depanmu, bila engkau tidak dapat melihatnya, cukup dengan engkau mendengar suaranya, jika engkau tidak dapat mendengarnya, cukup dengan engkau menghirup aroma tubuhnya, jika engkau tidak menghirupnya, cukup dengan engkau mengetahui namanya.” Allah Swt justru telah memuliakan wanita dengan memerintahkan mereka menutupi auratnya (berhijab). Dengan itulah Allah Swt menilai wanita mana yang telah menjaga amanat Allah Swt dalam dirinya. Dan mana yang malah merendahkan amanat tersebut. Apa kita tidak pernah sadar? Yang dicari setiap manusia dari antara Pria dan Wanita adalah kasih sayang tersebut? Cinta tersebut?

Alkisah, Qais disebut Majnun(Gila) karena mencintai Layla. Suatu hari ia pernah menyamar dengan kulit domba dan berbaur diantara domba - domba Layla hanya agar bisa lebih dekat dengan Layla. Cerita lainnya, Suatu hari Layla dan Ibunya membuat suatu perjamuan di rumahnya, orang – orang duduk berkumpul dan Layla mengisi piring mereka satu persatu dengan hidangan. Tibalah kepada Majnun yang telah lama menunggu dengan piring ditangannya. Melihat Majnun, Layla merebut piring ditangan Majnun dan menghempaskannya ke tanah hingga pecah berantakkan. Melihat sikap Layla, Mata Majnun semakin berbinar menatap Layla. Semakin besar cintanya kepada Layla.. Majnun ialah anak dari seorang saudagar terpandang, mendengar cerita tersebut Raja Harun heran dan penasaran, bagaimana rupa Layla hingga Majnun tergelepak – gelepak dibuatnya. Dipanggillah Majnun dan Layla menghadap sang Raja. Setelah bertemu Layla. Seketika itu pula Raja tergelepak – gelepak melihatnya. Bukan karena takjub akan kecantikannya, tidak. Ternyata Layla adalah putri seorang budak. Kulitnya lebih hitam dibanding selembar kain berwarna serupa yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Raja sangat terkejut, bukankah wanita – wanita Persia itu cantik – cantik dan kulitnya seputih susu. “Mengapa kau dapat jatuh cinta kepadanya Hai Majnun?” Tanya Raja kepada Majnun. Mendengar pertanyaan Rajanya Majnun langsung menjawab, “Wahai Raja, bukan kecantikan yang membuat diriku jatuh pada kecintaan kepada Layla. Namun, ketika melihatnya aku selalu teringat akan Tuhan.”


/lym 01/03/2011
Falsafah Cinta - Alfan Arrasuli

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.