Monday, November 22, 2010

Tersesat Pekat


Rabbi
betapa mudah langkah ini tersesat
terseok-seok menuju rahmanMu

Rabbi
betapa pandangku terasa pekat
tersandung-sandung menggapai ghafurMu

teringat aku selarik nasehat:

Ghafur ya Ghafur, langit hamba rendah
Sejauh-jauh pandang cuma sanggup menawar murah
Hamba mencariMu kurang teliti
Remang fajar tak kunjung pagi

Hamba tak layak denganMu berjual beli
Tak terhingga jumlah Engkau mengongkosi
Dari angkasa bertabur mutiara segala hari
Sedang yang termahal dari hamba cuma mati

Kemudian Engkau sediakan pula beribu ampunan
sampai hamba takut akan jadi pedagang picisan
yang karena merasa punya jaminan permaafan
Ghafur ya Ghafur, lantas menumpuk pelanggaran

(Cak Nun, 1984)


Rabbi
jangan biarkan aku menderita dalam sekarat
dan sungguh ingin Kau panggil aku dengan syahdu:
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
Irji'iii ilaa robbiki roodhiyatan mardhiyyah
Fadkhulii fii ibadii wadkhuli jannaty...

----------&&&---------
Pondok Cabe, 20112010
*saat merasa melakukan hal yang bodoh berulang kali


/lym 21/11/2010
From : Mukti Amini Farid Facebook

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.