Saturday, September 25, 2010

Berkaca


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Ya Allah ya Rabbi, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah."
___________________
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....
Janganlah engkau menghitung hartamu, sebab hartamu akan membelenggumu ..hitunglah kesalahanmu, sebab salahmu adalah awal dari kebenaranmu .. sesungguhnya kebenaran adalah harta yang paling berharga, sebab kebenaranlah yang mampu menuntun kita menuju ke rahmat yang paling tinggi di sisi Allah .. adalah syurga yang dipersiapkan bagi manusia yang selalu berjalan tiada pernah membelokkan mata hatinya ..


/lym 24/09/2010

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.