Wednesday, August 18, 2010

Sebuah Pesan Kemerdekaan


Anakku,

Tulisan ini sengaja dibuat untukmu
Sebagai pengganti komunikasi kita
Karena kau kini jauh dari ibu.

Pagi ini ada rasa ingin ziarah ke tempat Eyangmu
Mungkin karena acara biasa keluarga kita di bulan ini
Yang selalu kita hadir disana dengan berdoa di pusaranya.
Insya Allah Eyangmu dimuliakan Allah dengan mendapat surga-Nya
Amin

Anakku,
Andaikan Eyangmu masih ada disekeliling kita; ada di dekatmu
Mungkin beliau akan banyak bercerita kepada kita semua
Bagaimana Eyang dan teman-temannya berjuang sebagai Tentara Pelajar.
Dalam meraih Sebuah Kemerdekaan Negeri ini.
Walaupun cerita ini sering diulang-ulangnya
Tapi kita tak pernah bosan mendengar Eyang berbagi pengalamannya.

Kini Eyang sudah mendahului kita
Kita tinggal mengenang cerita-ceritanya
Dan bulan ini sangat baik untuk engkau termasuk Ibu
Untuk mengambil makna dari Sebuah Perjuangan
Yang dilakukan oleh para pejuang kita.

Kemerdekaan sudah diraihnya dari tahun empat lima lalu
Dengan pertempuran phisik melawan para penjajah.

Semangat mereka yang patut kita maknai
Bagaimana mereka berjuang merebut Sebuah Kemerdekaan.
Bagaimana mereka mengendap dalam gelap malam di lereng strategis sebuah bukit kecil menghadang konvoi Nica.
Bagaimana jantung mereka deras berdebar ketika iring-iringan kendaraan itu semakin mendekat
lalu bagaimana tubuhnya ditembus peluru dan mereka rebah ke tanah berlumur darah terbaring beku di rumput ilalang.
Bagaimana mereka berjuang dalam seragam kumal baju compang-camping, menyandang karaben Jepang di front-front terdepan.
Bagaimana mereka terpelanting dari tebing-tebing pertempuran.
Bagaimana mereka menyerbu tank dengan bambu runcing.
Bagaimana mereka bertahan habis-habisan ketika dikepung musuh dari segala penjuru.
Bagaimana mereka mengunci rapat rahasia pasukan dalam mulut yang teguh membisu,walau dilistrik jari-jari mereka dan dicabuti kuku-kuku mereka.
Bagaimana kesetiakawanan yang menulang-sumsum
Bagaimana kaum ibu sibuk bertugas di dapur umum
Membantu ayah-ayah kita; eyang-eyang kita bertempur.

Bagaimana .... dan bagaimana yang banyak lagi .
Semua itu sungguh-sungguh terjadi dan bukan dongeng .. juga bukan sebuah mimpi.

Kemerdekaan telah mereka rebut.
Kemerdekaan telah mereka wariskan Kepada negeri ini Kepada engkau, kepada kita semua.
Sekarang tinggal engkau dan kita semua Nak,
Yang melanjutkan perjuangan mereka
Berjuang melawan belenggu yang ada pada diri kita
Berjuang untuk sehat lahir bathin kita.

Stop !
mengasihi diri sendiri;
membuat berbagai "alasan".

Berjalan Nak ... berjalan kita bersama
Berjuang melawan musuhmu musuh kita semua
Sebuah Belenggu
Sehingga Kemerdekaan bisa kita raih.
_______________________________________

Wahai Tuhanku, jagalah daku dengan Mata-Mu yang tiada pernah tidur dan lindungi daku dengan benteng-Mu yang tiadadapat dilanda dan rahmatilah daku dengan kudrat-Mu supaya aku tiada binasa;Engkaulah harapanku.



/lym 15/08/2010 @ 08.47 am

Dedicated For : My Son; My Father in Heaven

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.