Monday, July 19, 2010

None of Us is Perfect Forever


Tak Ada Gading Yang Tak Retak,

Rasanya ini ungkapan yang tepat mengawali catatan saya pagi ini mengenai kiprah seorang Ariel Peterpan.

Dalam catatan ini, saya ingin membatasi pandangan, melihat karya seorang Ariel yang positif dalam industri musik, bukan perbuatan salahnya.

Banyak catatan media yang dibuat tentang Ariel sang vocalis Group Band Peterpan yg nyaris sejenis dalam sebulan ini.

Pemberitaan terhadapnya luar biasa gencar yang mampu “menyedot” dan mengalihkan perhatian kita , kepada hal-hal besar lainnya seperti kebijakan pemerintah menaikkan Tarif Dasar Listrik; Naiknya harga-harga kebutuhan dasar. Sulitnya para orang tua yang berpenghasilan “pas-pas-an” memasukkan buah hati nya ke sekolah-sekolah negeri, karena hampir semua sekolah negeri mematok NEM tinggi sehingga buah hati kita yang kebetulan harus menerima NEM sedang-sedang dengan rata-rata nilai 6 sudah tersingkir dari sekolah negeri yang dekat dari rumah tinggalnya.Sangat, sangat mengherankan sekolah negeri hanya ingin mendidik anak-anak “pintar”; lantas tujuan pendidikan nasional membuat anak-anak Indonesia pintar, menguap begitu saja, seiring komersialisasi pendidikan.

Catatan ini terlahir ketika kemarin sore saya melihat tayangan special dari stasiun televisi MTV mengenai Group Band Peterpan, yang menayangkan beberapa karyanya berikut cerita dibalik pembuatan video klipnya.

Salah satu lagu yang menarik perhatian saya adalah hits di album terakhirnya, Disini Ariel membuat syair yang berbeda dari tema-tema biasanya. Lagu itu diberi judul “Tak Ada Yang Abadi”.

Menyimak liriknya, seakan-akan jauh-jauh hari ia sudah menyadari bahwa semua yang diperolehnya tak ada yang abadi; roda dunianya bisa berputar kebawah setelah di atas; termasuk popularitasnya yang tak akan abadi, semua akan berganti dengan penggantinya; semua karena keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa; karena kelemahannya ketimbang tuntutan kesempurnaan kepadanya sebagai Top Star atau Public Figure.

tak kan selamanya tanganku mendekapmu
tak kan selamanya raga ini menjagamu
seperti alunan detak jantungku
tak bertahan melawan waktu

dan semua keindahan yang memudar
atau cinta yang t’lah hilang

tak ada yang abadi
tak ada yang abadi
tak ada yang abadi
tak ada yang abadi

biarkan…
aku bernafas…sejenak..
sebelum…hilang….

tak kan selamanya tanganku mendekapmu
tak kan selamanya raga ini menjagamu
jiwa yang lama…segera pergi
bersiaplah para pengganti…

tak ada yang abadi

Banyak sudah ia menerima hukuman karena ini, walaupun peradilan belum memberikan putusannya. Seperti syairnya di atas, akan lebih bijaksana, untuk kita memberikan kesempatan ia bernafas diantara perenungannya dengan Allah Sang Penciptanya. Biarkan ia meminta ampunan kepada Allah, sebelum ia menerima peradilan dari manusia.

Insya Allah peristiwa ini akan menjadi pelajaran bagi dirinya juga bagi saya, bagi kita bahwa setiap perbuatan harus dipikir dan dipilih, karena sekali kita berbuat, sebuah atau beberapa akibat tidak akan lagi bisa kita pilih.

None of Us is Perfect Forever.

________________________

”Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. An-Naml [27]: 46)

/lym 18/07/2010

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.