Monday, July 12, 2010

Hidup Ini Penuh Dengan Kesempatan Kedua


Sering dikatakan, kesempatan tak pernah datang dua kali,... itu soal sudut pandang. Sudut pandang untuk peragu, kata-kata "kesempatan tak datang dua kali" hanyalah untuk memotivasi agar kita berani mengambil kesempatan yang datang. Sudut pandang bagi mereka yang terhalang oleh berbagai kendala, selalu masih terbuka kemungkinan untuk meraih yang dulu tertunda. Namun, yang bernama kesempatan juga dibuka, dihitung, diberi ruang, oleh kita sendiri, agar hadir dan kita jalani prosesnya tahap demi tahap.

Taklukkan gunung Anda setahap demi setahap | Seperti banyak perenang pertandingan yang masih muda, John Nader mendambakan untuk bertanding dalam Olimpiade. Kemudan pada tahun 1972, sementara menonton Olimpiade di TV, perenang SMA dari Amerika ini mulai bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak dia harus mengningkatkan kemampuannya untuk bisa menjadi peserta Olimpiade. Menurut perhitungannya, dia harus menurunkan waktunya empat detik dalam empat tahun.

Mula-mula, rasanya ini mustahil - sampai John memperhitungkan bahwa kalau dia berlatih sepuluh bulan setiap tahun, dia hanya akan mengurangi waktunya sepersepuluh detik per bulan dari yang empat detik, dan akan berhasil menjadi peserta Olimpiade 1976. Dan ia telah mengalaminya, tepat dengan apa yang diperhitungkannya.
Kata Steven Danish, ketua jurusan psikologi di Virginia Commonwealth University, Amerika Serikat, "Dengan memecah-mecah sasaran menjadi bagian-bagian yang bisa dicapai, kita meningkatkan keuntungan dalam pendapatan jangka pendek, dan kita menurunkan harga yang harus dibayar dalam upaya mencapainya."
Lupakan sejenak soal "keuntungan" dan "pendapatan" dalam kata-kata itu, ingat kalimat pertamanya, raihlah cita-citamu dengan ukuran-ukuran kemungkinan yang ada. Jadi presiden, tentu saja juga boleh, tapi mulai berhitung semuanya, dan lakukan tahap demi tahap. Adakah contohnya?

Barrack Obama, contoh yang pas untuk cita-cita itu. Dia ikuti seluruhnya, bukan hanya sejak ikut konvensi, tetapi membangun citra diri (belajar dan berlaku keutamaan) sejak remaja, dengan belajar dan bekerja. Di samping, obsesi dari ibunya sendiri, yang mengajaknya pulang ke Amerika, karena (menurut ibunya) sistem pendidikan di Indonesia, tak memungkinkan Barry menjadi presiden! (Ini pendapat ibu Obama, juga Obama sendiri, yang selalu disembunyikan).
Di dunia ini, selalu ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Tidak menunggu, tetapi bahkan dengan menciptakannya sendiri kesempatan itu.

/lym 11/07/2010

From: Facebook Sunardian Wirodono

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.