Monday, June 21, 2010

One Day in The Future


Baru saja selesai menyimak catatan puisi Prof. Dr.Sapardi Djoko Darmono; Saya memang termasuk “ngefans” dengan karyanya. Yang saya baca malam ini bukan puisi cinta-nya; tapi satu catatan yang berbeda ; sebuah catatan tentang “Pada suatu hari nanti”. Puisi ini saya kutip dari salah satu blog :

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara lirik-lirik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impiankupun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari.


Merenung membaca tiap baris katanya, karena harus membayangkan “kepulanganku” kelak.
Apa yang akan saya bawa kehadapan-Nya ?

Karena sepertinya saya lebih banyak mengeluhnya. Mengeluh merasakan sakit; mengeluh ketidak-adilan; mengeluh tak bahagia; mengeluh merasa kurang ; mengeluh dalam ketiadaan; belum lagi banyak kesabaran dan keikhlasan saya hanya sebatas di bibir saja; yang pada akhirnya saya hanya mengumpulkan lara ketimbang mengumpulkan amal untuk kendaraan saya pulang nanti.

Rasanya saya juga masih kurang waktu ‘tuk mempersiapkan hidup anak saya, suatu cita-cita seorang ibu yang mungkin saja dianggap berlebihan; kecemasan yang berlebihan kepada anak saya laksana saya berdiri di atas pondasi sebuah kaca; padahal saya harusnya menyakini bahwa anak saya adalah titipan-Nya kepada saya; yang pastinya sang pemiliknya lebih menjaga anak saya, daripada saya. Karena hanya Dia yang mampu melakukan segala yang tak sanggup saya lakukan untuk dia (anak saya).

Ya Rabbana, aku mohon ampunan-Mu karena tidak pernah bisa sempurna mencintai-Mu;
namun aku tetap berharap Engkau menggenggam hatiku; aku mohon ampunan-Mu untuk menerima taubatku.

Astagfirullah; Astagfirullah; Astagfirullah

____________________________

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan kepadanya dari Ruh-Nya, ** dan Dia menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati. Sedikit sekali kamu bersyukur.” ( **Ruh adalah ciptaan dan kepunyaan Allah meskipun Ruh itu berada didalam diri manusia namum ruh itu milik Allah. Bukan berarti kalau dikatakan ruh manusia adalah Ruh Allah bahwa Manusia sebagian dari Allah. Oleh sebab itu apabila Allah menghendaki Ruh itu tiada seorangpun yang dapat menahannya. (Q.s. As Sajdah 32:9).

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.“ (Q.s. Al-Kahfi 18:110).


/lym 21/06/2010@02.17 am

From :
http://fiksi.kompasiana.com/group/prosa/2010/06/21/one-day-in-the-future/

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.