Sunday, April 18, 2010

Kotak Musikku


Kotak musik itu kubuka. Terdengar alunan merdu mengiringi boneka penari ballet yang berputar , dan terkadang bertop shoe. Indah, sempurna, dan menggetarkan rasa.
Mata, telinga, dan hatiku ikut bernyanyi. Jiwaku ikut menari. Berdansa dan berputar di kotak musik itu.
Alunan jernih memecah malam, melenakan seluruh ragaku. Menghisapnya sampai jauh.
Betapa ingin ku menjadi seorang ballerina. Dan kini di tanganku sepasang ballerina tengah menari mengikuti irama yang seindah nyanyian syurga.

Ada satu jam kuberdiam. Menatap dua penari di kotak musikku. Membelainya penuh ingin tahu.
Aku ingin bertanya pada mereka. Kedua penari mungil itu. Bagaimana mereka bisa berada dikotak musik itu. Apakah mereka sudah lama tinggal di situ? Mengapa baru kali ini kulihat tempat tinggal yang sangat kecil. Hanya seukuran kotak musikku ini. Didalamnya berdiam sepasang penari ballet yang telah membuatku jatuh cinta.

Bibir mereka tersenyum. Seakan memahami keingintahuanku. Tapi mereka tak bicara. Hanya tersenyum dan tersenyum. Benar-benar mengherankanku. Apakah mereka juga tak pandai bicara sepertiku?
Tapi mereka bisa tersenyum. Aku tidak. Aku sudah lama melupakan senyumku. Bagaimana bentuk wajahku bila senyum itu kukembalikan lagi kebibirku yang kering.
Pasti tak tampak menawan. Menakutkan mungkin.

Sejak kotak musik itu tak sengaja kutemukan di atas loteng kamar kakakku. Aku merasa punya teman. Kedua boneka penari itu kini menjadi teman baruku. Menggantikan Reno anjingku yang sudah mati. Reno yang malang. Menitik air mataku bila mengingatnya kembali.

Kotak musik itu kubuka kembali malam ini. Jantungku berdegup. Suara musik perlahan menerpa gendang telingaku. Kotak mulai membuka lebar. Kedua penari mulai berdansa.
Akupun siap untuk bergembira bersama mereka. Aku tertawa...ya..aku tertawa.
Bukan lagi tersenyum, tapi aku tertawa. Benarkah aku tertawa? Kumenoleh pada cermin di sebelah tempat tidurku. Wajah itu benar tertawa. Aku juga melihat diriku berdansa. Berputar dan bertop shoe. Bahagia menjalar kesegenap pori-pori jiwaku. Aku terus berputar dengan irama yang lembut dan matang. Akhirnya aku bisa menari kembali. Ballerina itu diriku sendiri.

Pagi ini, aku membuka kembali kotak musikku. Tapi aku tak tergerak untuk menari. Otakku tengah berfikir. Bagaimana agar aku bisa masuk kedalam kotak ajaib itu. Kotak yang mampu menghadirkan rasa bahagiaku yang hilang. Kotak yang mampu mengembalikan pendengaranku pada alunan musik. Kotak yang membuatku bisa menari kembali. Berdansa bersama boneka kesayanganku.
Penari ballet mungil idolaku.

Tapi aku tak mungkin bisa memasukinya. Kotak itu begitu kecil. Rumah penariku begitu sempit. Hanya cukup untuk mereka berdua. Mereka begitu kecil. Pasti kesempitan bila aku ikutan tinggal bersama mereka di rumahnya. Jadi aku kembali hanya memandangi isi kotak itu. Mengapa kebahagiaan begitu memancar dari kesempitannya. Apakah ruhku ada disana? Apakah sebenarnya jiwaku sudah lama tersimpan ditiap sudutnya?

Kututup kotak mungil itu. Lagupun terhenti sudah. Meninggalkan keheningan yang dalam.
Aku didera rasa sedih. Aku ingin selalu membukanya. Apakah kotak itu tak bosan kubuka-buka terus? Apakah musik itu akan segera berhenti bila bosan memperdengarkan nada indahnya padaku? Apakah penari itu akan tetap membuka pintu rumahnya untukku? Apakah....

Kotak mungil itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Aku terkesiap. Alunan yang sudah begitu akrab ditelingaku mulai kembali terdengar. Kotak membuka lebar. Kedua penari membungkukkan tubuhnya padaku. Memberi hormat. Lalu dengan lembut dan indah menari dengan aura kebahagiaan yang nyata di kedua parasnya. Aku bergetar. Tubuhku mulai melayang.
Kebahagiaanku kembali hadir. Meragai seluruh jiwaku....kubiarkan keindahan ini menyelimutiku.
Kubiarkan lepas dengan segala kebebasannya. Aku menari dan berdendang...
sesekali bertop shoe....kebahagiaan ini begitu nyata. Dan aku tak hendak menghentikannya, meski esok pagi matahari lupa menyinari jantungku.

Sejak saat itu kotak musik itu tak pernah menutup lagi. Terus terbuka memancarkan kebahagiannya untukku.
Kebahagiaanku terletak di dalamnya.....


Langit malam Batavia, April 2010

by. Sayuri Yosiana

/lym 17/04/2010

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.