Monday, April 5, 2010

Kita bagaikan Kamera


Sayang sekali saya tidak membawa kamera pagi ini, kala dingin masih mesra membelai mata. Sayang sekali padahal nuansa itu tidak akan kutemui kedua kali. Mimik muka itu begitu susahnya kudapat. Seorang kurus berpakaian kumal dan saya yakin aroma tubuhnya pun akan sangat menyengat bila saya dekati.

Saya pernah menonton sebuah film yang dibintangi jack Nicholson, salah satu actor watak yang jenius dalam peran. Seingat saya judulnya “As good as it gets” ada sebuah kalimat yang bagus didalamnya tentang membaca ekspresi yang tak disadari manusia. “pada penggalan moment tertentu terkadang manusia menunjukkan kejujuran tanpa harus diucapkan” moment itulah yang biasanya akan berubah menjadi karya seni entah itu sebuah syair atau sebuah painting. Namun sangat jarang manusia menyadari penggalan tingkah polahnya yang menggambarkan kejujurannya. Kealamiahan sifat dan perangainya.

Namun bagi yang memiliki indera yang tajam atau memang terasah moment ini bisa tercapture dengan mudah dan segera tertuang dalam media yang dikehendakinya. Dalam marah adakalanya manusia menunjukkan kejujurannya. Dalam diam terkadang pun terlihat, dalam kondisi melamun, dalam menangis dalam raut kesedihan. Tiap manusia akan menunjukkan kejujuran sifat yang berbeda.

Saya menemukan kejujuran sifat seorang gelandangan yang sedang kelaparan, terpaku tak bergeming memandang kedalam toko bakery. Seakan tatapannya bisa menembus kaca tebal yang membatasinya dengan makanan. Sayang saya tidak bisa menunjukkan kejujuran ini dalam bentuk fragmen gambar yang akan terlihat lebih indah dan menyentuh siapapun yang memandangnya.

Sayang kamera itu tersimpan rapi didalam hati masing-masing manusia, walau banyak manusia yang melihat disana tak satupun tergerak semua berlagak bak kamera yang hanya berusaha mengabadikan keindahan itu tanpa sadar bahwa teguran pun akan membuyarkan lamunan gelandangan yang sedang kelaparan itu.

Kita lebih sering berakting layaknya kamera, melihat begitu banyak ketimpangan namun hanya berusaha mengambil gambar tanpa harus bergerak dan berempati. Hanya memberikan blitz terang benderang dan cukup mengucapkan, “kasihan sekali dia!”
Dalam keseharian hati ini semakin kelu tuk bersimpati, tangan ini semakin hampa tuk berempati. Bukankah dengan mengetahui rasanya lapar merupakan training ideal tuk membuka kabut yang menyelimuti hati? Dengan rasa lapar kita tahu dengan siapa kita harus berbagi. Dengan lapar kita sedikit diingatkan bahwa manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri.

Kita seperti kamera menangkap semuanya dalam sebuah moment namun kita kelu, kita bisu kita tidak bisa bergerak kadang keinginan besar namun usaha kecil. Kita membutuhkan sebuah printer untuk mewujudkan gambar itu hingga menjadi bernilai. Kita ini kamera dengan harga mahal namun dengan fungsi sangat minim. Sadarkah kita! Kamera berjalan?

Dalam skala yang lebih luas, kita hanya sanggup memegang kamera kemudian dengan jari bergetar menekan tombol klik, dihadapan korban keganasan rudal-rudal yahudi. dalam skala yang lebih luas emphaty itu hanya sekedar lampu blitz yang membutakan. kitalah kamera berjalan itu!

setidaknya tulisan ini mampu menggugah empati kita semoga.


/lym 05/04/2010 @09.20am

From : http://filsafat.kompasiana.com

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.