Sunday, April 18, 2010

Keagungan Ciptaan-Nya


"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah." (Q.S. Al Mulk: 3-4)

Kata itqaan artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan sempurna. Tidak ada di dalamnya main-main. Dalam bahasa Inggris bisa dikatakan perfect. Semua perbuatan Allah mutqin. Maka ciptaanNya sangat sempurna. Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari kesempurnaan ciptaan Allah.

Allah Tidak Pernah Main-main
Ayat di atas menggambarkan betapa Alah swt. dalam menciptakan langit benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat sedikitpun. Perhatikan Allah menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat sekali lagi. Lihatlah dengan kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata tehnologi yang paling canggih. Itu semua akan membuktikan bahwa penciptaan langit benar-benar sempurna. Dari ayat ini nampak bberapa makna yang penting untuk kita garis bawahi dalam pembahasan ini:

Pertama, bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam segala ciptaanNya. Setiap ciptaan Allah di alam semesta ini adalah mengagumkan. Maka sungguh tidak masuk akal jika kemudian manusia main-main. Tidak bersungguh-sungguh mentaati Allah swt.

Coba renungkan, alasan apa untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang mengtakan bahwa semua ciptaan yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk tertawa-tawa, makan-minum-tidur?

Sebegitu serius Allah menciptakan langit, lalu kemudian manusia yang diam di bawahnya tidak pernah memperhatikannya. Kalapun memperhatikannya dan melakukan penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu tidak untuk mengenal PenciptaNya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi dikumentasi pengetahuan belaka. Yang lebih celaka lagi, adalah justru setelah menyaksikan keagungan angkasa raya, malah mengatakan semua itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakanNya? Benarkan kerapian sistem yang demikian luar biasa ini terjadi dengan sendiriNya? Akal sehat yang mana yang mau menerima pernyataan bahwa itu terjadi dengan sendirinya?

Di dalam Al Qur’an Allah swt. selalu mengingatkan tentang bukti-bukti keagungan ciptaanNya, supaya manusia tahu bahwa tidak mungkin itu terjadi tanpa ada yang menciptakannya. Dalam surat Ar Rahman Allah swt. secara khusus mengulang-ulang pertanyaan untuk menggugah akal manusia. Menggugah agar melihat bahwa semua itu karena Allah swt. yang mengaturnya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan itu diulang sampai 31 kali. Dan di antara yang Allah sebutkan adalah penciptaan langit, Allah berfirman: Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu (Ar Rahman 7-9).

Sungguh luar biasa keseimbangan yang Allah tegakkan. Karena itu Allah berpesan dalam ayat ini: Janganlah sekali-kali kamu melanggar keseimbangan ini. Sebab sedikit kita melanggar, pasti akan membawa malapetakan, tidak saja kepada lingkungan di mana kita hidup, tetapi kapad diri kita sendiri. Akibat lebih jauh, Allah sangat murkan kepada orang-orang yang asal-asalan berrbuat di muka bumi. Asal-asalan maksudnya tidak mau ikut aturan yang telah Allah letakkan. Kemrukaan Allah –kalau tidak segera dibalas dengan taubat- tentu pada gilirannya dilanjutkan dengan adzabNya. Itulah yang pernah Allah tunjukkan kepada kaum Aad, Tsamud dan kaum Fir’un. Perhatikan betapa setiap perbuatan yang didasrakan atas main-main pasti akan membawa malapetaka terhadap kemanusiaan. Karena itu tidak ada pilihan dalam mejalani ketaatan kepada Allah kecuali bersungguh-sungguh dengan penuh keseirusan tanpa sedikitpun main-main.

Kedua, bahwa Allah menantang ”challange” siapapun untuk benar-benar mengecek kerapian ciptaanNya. Mengapa? Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas dibalas dengan main-main. Tapi sayangnya, masih banyak, bahkan mayoritas manusia yang main-main. Karena itu seorang mu’min dalam menegakkan ibadah kepada Allah jangan asal-asalan. Dalam pembukaan surah Al Mu’minun ketika Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa shalat harus khusyu’ (alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’un) bukan asal shalat. Imam Ibn Taymiyah mengatakan dalam buknya Majmu’ Fatawa bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt. dalam surat Al Mu’minun tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai kebahagiaan. Artinya seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika shalatnya tidak khusyu’.

Dalam banyak ayat mengenai shalat, Allah swt. selalu menggunakan kata aqaama - yuqiimu yang artinya menegakkan. Dalam pembukaan surat Al Baqarah misalnya Allah berfirman: wayuqiimuunash shalaata. Mengapa Allah tidak berfirman: wayushalluuna? Imam Al Jashshash dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an membahas rahasia ungkapan ini secara mendalam dan panjang lebar. Kesimpulannya bahwa di dalam kata aqaama-yuqiimu terkandung maknan keharusan menegakkan dengan serius dan sungguh-sungguh. Maksudnya bahwa seseorang dalam menegakkan shalat harus benar-benar memenuhi hak shalat, rukun dan khusyu’nya, ketepatan waktunya, dikerjakan secara berjamaah di masjid, wudhu’nya pun sebagai syarat sahnya shalat harus juga benar. Tempat dan pakaian harus bersih dan suci. Semua itu adalah gambaran dari kesungguhan seseorang dalam menegakkan shalat.


/lym 24/03/2010
http://ramdanyzone.blogspot.com/
Kamis, 12 Juni 2008

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.