Thursday, April 22, 2010

Emansipasi Wanita Dalam Perspektif Al-Qur'an


Assalamualaikum wr.wb

Sahabatku rahimakumullah.

Hampir 15 abad lalu, di Jazirah Arab yang didominasi laki-laki (patrilineal), wanita hampir tidak dianggap sama-sekali keberadaannya, Rasulullah saw membawa Revolusi yang mengangkat harkat dan martabat wanita, jauh sebelum emansipasi wanita dikampanyekan wanita di Barat. Kurang lebih 130 tahun lalu, di Jepara, RA Kartini juga mengangkat harkat dan martabat bagi wanita Indonesia di zamannya. Bagi wanita, Islam telah membawa mereka dari era kegelapan (jahiliyah) ke era yang jauh lebih baik. RA Kartini menbawa wanita Indonesia dari "Gelap menuju terang”. Cita-cita RA Kartini telah tercapai, karena banyak posisi2 pentng telah dijabat dan diduduki wanita, bahkan negeri kita pernah dipimpin oleh Presiden wanita, sesuatu yang zaman Jahiliyah hingga zaman RA Kartini masih menjadi mimpi. Terlampir di bawah ini tulisan tentang emansipasi wanita dalam perspektif Qur’an, Semoga Bermanfaat dan bagi seluruh wanita Indonesia, SELAMAT HARI KARTINI.

Secara historis Nabi sudah melakukan reformasi luar biasa untuk menempatkan posisi perempuan setara dengan laki-laki. Tetapi, tidak semua sahabat dapat segera memberikan respon emansipatif terhadapnya. Dalam gerakan Islam modern, salah satu aspek yang berusaha ditonjolkan adalah pemahaman baru terhadap ajaran Islam (al-Quran) berkaitan dengan kaum perempuan.

Al-Qur'an sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'âlamîn) diturunkan untuk memberikan pencerahan. Ayat-ayat al-Qur'an berobsesi untuk mewujudkan keadilan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, setiap penafsiran yang telah melahirkan diskriminasi jender harus ditinjau kembali, karena tidak sejalan dengan misi utamanya.

Penafsiran terhadap ayat-ayat jender selama ini umumnya masih mempertahankan status quo, di mana laki-laki diberikan peran dominan dalam dunia publik, sedangkan perempuan diberikan peran di dunia domestik. Pembagian peran berdasarkan jenis kelamin jelas merugikan perempuan dan menguntungkan bagi laki-laki. Pembagian seperti ini tidak sejalan dengan semangat yang ingin ditumbuhkan oleh Al-Qur'an.

Dalam bidang kepemimpinan, kaum perempuan memperoleh akses yang kurang sekali karena seolah-olah sudah mengendap di alam bawah sadar dalam masyarakat bahwa kaum laki-lakilah yang harus menjadi pemimpin bagi kaum perempuan. Dalam bidang ekonomi, kaum perempuan juga banyak dirugikan karena adanya pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Kaum perempuan disudutkan pada sektor domestik dengan alasan kodrat. Kodrat difahami sebagai pemberian Tuhan (Devine Creation), padahal sebagian besar yang disangka kodrat itu sesungguhnya adalah ciptaan masyarakat (social construction). Demikian pula dalam bidang pendidikan, kaum perempuan dianggap tidak mempunyai kemampuan intelektual sebagaimana halnya laki-laki, karena adanya nash yang difahami secara tekstual dan parsial, sehingga tidak sejalan dengan semangat umum al-Qur'an yang menghendaki pemberdayaan manusia sebagai khalifah dan sebagai hamba tanpa membedakan jenis kelaminnya.

Kisah tentang kebesaran Ratu Balqis diuraikan tidak kurang dari dua surah (an-Naml dan al-Anbiyâ’). Kisah panjang tentang penguasa Saba’ yang makmur tentu bukan sekedar “cerita pengantar tidur”, tetapi sarat dengan makna dalam kehidupan umat manusia. Setidaknya, al-Qur’an mengisyaratkan dan sekaligus mengakui keberadaan perempuan sebagai pemimpin. Kita diingatkan bahwa di dalam al-Qur’an pernah ada tokoh perempuan yang mengendalikan kekuasaan besar dan di sekelilingnya banyak tokoh laki-laki.

Kenyataan yang diperankan Ratu Balqis dan isyarat persamaan hak-hak politik antara laki-laki dan perempuan, lebih otentik dan lebih serasi dengan visi dan misi global al-Qur’an. Al-Qur'an jelas-jelas tidak membenarkan adanya diskriminasi berdasarkan etnik, ras, dan jenis kelamin (49:13).

Isteri-isteri Nabi sendiri menunjukkan aktivitasnya di bidang ekonomi dalam beragam profesi, seperti Khadijah, konglomerat yang berhasil dalam usaha ekspor-impor; Shafiyah binti Huyay, perias pengantin; dan Zainab binti Jahsy, yang menggeluti industri rumahan menyamak kulit binatang. Ada juga Raithah, isteri Abdullah Ibn Mas’ud yang aktif berbisnis karena suaminya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Juga Asy-Syifa, seorang perempuan yang ditugasi Umar mengurusi pasar di kota Madinah.

Jika ditelusuri ternyata ditemukan beberapa hadis Nabi Saw. yang berbicara tentang kewajiban belajar, baik kewajiban terse¬but ditujukan kepada laki-laki maupun perempuan. Dari Anas, dia berkata bahwa Rasululah Saw. bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim” (HR. Baihaqi).

Para perempuan di zaman Nabi Saw, pernah memohon kepada beliau agar bersedia menyisihkan waktu khusus agar mereka dapat menuntut ilmu, kemudian permohonan ini dikabulkan oleh Nabi (HR. Bukhari dan Muslim).

Sejarah menunjukkan bahwa banyak perempuan yang sangat menonjol dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, sehingga menjadi rujukan sekian banyak tokoh laki-laki. Isteri Nabi Saw, ‘Aisyah Ra, adalah salah seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang sangat dalam dan terkenal pula sebagai seorang kritikus, sampai-sampai ada ungkapan terkenal yang dinisbahkan oleh sementara ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad Saw, “Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humaira (yakni ‘Aisyah)”.

Kemudian, asy-Syaikhah Syuhrah yang bergelar Fakhr An-Nisâ (kebanggaan perempuan) adalah salah seorang guru Imam Syafi’i, tokoh mazhab fiqh yang pandangan-pandangannya menjadi anutan umat Islam di seluruh dunia. Al-Muqari dalam bukunya Nafhu Ath-Thib, sebagaimana dikutip oleh Dr. Abdul Wahid Wafi, memberitakan bahwa Ibnu Al-Mutharraf, seorang pakar bahasa pada masanya, pernah mengajarkan seorang perempuan liku-liku bahasa Arab. Namun akhirnya, ia memiliki kemampuan yang melebihi gurunya sendiri, khususnya dalam bidang puisi, sehingga ia dikenal dengan nama Al-’Arudhiyat, karena keahliannya itu.

Secara historis, apa yang dilakukan Nabi merupakan reformasi yang luar biasa untuk menempatkan posisi perempuan setara dengan laki-laki. Tetapi, tidak semua sahabat dapat dengan segera memberikan respon yang emansipatif terhadap reformasi sosial ini. Setidaknya, Umar bin Khattab pernah mengingatkan Nabi bahwa memberikan hak terlalu banyak kepada kaum perempuan, sama artinya dengan membiarkan diri mereka dikuasai oleh kaum perempuan. Ia menghendaki agar Islam lebih menekankan perubahan di dunia publik, tetapi tetap mempertahankan moralitas dunia privat berdasarkan tradisi Arab lama. Karena itu, Umar tetap menginginkan perempuan lebih banyak berperan di bidang domestik.

Islam memang cenderung membedakan fungsi antara laki-laki dan perempuan tetapi perbedaan itu tidak mengandung unsur diskriminatif. Dasar perbedaan tersebut didasarkan atas kondisi fisik biologis yang ditakdirkan Tuhan berbeda antara satu dengan lainnya, terutama organ seksual. Perempuan memiliki organ reproduksi, seperti rahim untuk mengandung, buah dada untuk menyusui bayi, dan lain sebagainya, sementara laki-laki tidak memiliki organ tersebut. Namun demikan, perbedaan itu tidak mesti diartikan laki-laki lebih utama dan lebih unggul daripada perempuan. Kedua jenis makhluk ini masing-masing memiliki keutamaan dan keunggulan.

Fazlur Rahman pernah menegaskan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan bukanlah perbedaan hakiki tetapi fungsional. Jika seorang isteri di bidang ekonomi dapat berdiri sendiri, baik karena warisan atau kemampuannya sendiri, dan memberikan sumbangan bagi kepentingan rumah tangganya, maka keunggulan suaminya akan berkurang karena sebagai seorang manusia, ia tidak memiliki keunggulan dibanding isterinya.

Ajaran Islam tidak secara skematis membedakan faktor perbedaan laki-laki dan perempuan tetapi lebih cenderung memandang kedua insan ini secara utuh, antara satu dengan lainnya secara biologis dan secara sosial saling membutuhkan. Boleh jadi, suatu peran dapat diperankan keduanya, tetapi dalam peran-peran tertentu hanya dapat diperankan oleh salah satunya. Yang jelas, Islam telah berperan besar dalam mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Kalau dalam masyarakat sebelumnya perempuan diperlakukan sebagai "barang", maka setelah Islam datang membawa ajarannya, perempuan terangkat menjadi manusia yang tak berbeda dengan laki-laki.

Dalam gerakan Islam modern, salah satu aspek yang berusaha ditonjolkan adalah pemahaman baru terhadap ajaran Islam yang berkaitan dengan kaum perempuan. Rifa’at at-Tahthawi menyatakan bahwa kaum perempuan mesti memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki. Mereka harus memperoleh pendidikan agar dapat menjadi isteri yang baik dan menjadi partner suami dalam kehidupan intelek dan sosial, juga agar dapat bekerja seperti laki-laki sesuai dengan batas-batas kesanggupan dan pembawaannya. Ide ini dibawa lebih lanjut oleh Qasim Amin yang menulis buku Tahrîr al-Mar’ah dan al-Mar’ah al-Jadîdah yang di dalamnya dia menekankan emansipasi perempuan dalam Islam. Senada dengan hal tersebut, Muhammad Iqbal menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan pada masa sekarang sudah harus disejajarkan.

Sumber :
Disunting dari Tulisan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA yang diterbitkan Majalah Taubah Edisi Maret Tahun 2006.
----------------------------------------------------------------------------------

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat

Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb
IpeHa (Gus Im)

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK, SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"

/lym 21/04/2010
From : IPH Facebook

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.