Sunday, April 18, 2010

Deal dengan Tuhan


Saya yakin kita semua memahami arti dibalik salah satu nama-nama Allah yaitu Ar Rahman dan Ar Rahim. Kita selalu mengenalnya sebagai Allah Maha Pengasih dan Allah Maha Penyayang, seperti yang selalu kita sebut minimal 5x sehari setiap kali kita menunaikan shalat wajib. Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan walaupun kadang manusianya sendiri sering meremehkan hasil ciptaanNya.

Saking Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya, tidak cukup hanya menjadikan manusia sebaik-baiknya ciptaannya, tetapi Allah juga masih memberikan privilege kepada manusia untuk meminta, mengajukan permohonan, memiliki keinginan, apapun sebutannya, pendeknya kita diberi hak untuk memiliki kebutuhan yang diajukan kepadaNya. Yang hebatnya lagi adalah, Allah tidak pernah membatasi jenis kebutuhan atau permintaan yang boleh diajukan, kita boleh meminta apa saja yang kita butuhkan atau kita inginkan, tidak pula dibedakan apakah permintaan itu sesuatu yang penting atau remeh sekalipun. Demikian demokratisnya Allah, semua dikembalikan kepada manusia kita mau meminta apa.

Akhir-akhir ini saya mendapati dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan beberapa orang yang menyatakan atau bersikap yang yang kurang lebih mirip satu sama lain yaitu menganggap tidak patut bagi kita untuk mengajukan permintaan yang spesifik kepada Allah.

Pandangan tersebut rata-rata didasarkan pada pemahaman mereka bahwa Allah Maha Mengetahui. Tentu saja Allah Maha Mengetahui, hal itu merupakan sifat wajib Allah. Tepatkah sikap kita yang merasa ‘rikuh’ kepada Allah untuk mengajukan permohonan kepadaNya sementara Allah sendiri dalam banyak kesempatan dalam Al Quran sudah mengisyaratkan kepada hambaNya untuk berdoa, bermohon dan meminta kepadaNya, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah dalam Surat Al Mu’min ayat 60:
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam
keadaan hina dina".

Lihat pula Firman Allah dalam Surat An Naml (QS 27: 62)
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).

Sudah menjadi fitrah manusia, jika tertimpa kesulitan atau kesedihan kerap kita mengadu kepada Tuhan kita, meskipun kita seringkali melupakan keberadaanNya sebelumnya. Memang sudah semestinya kita memohon pertolonganNya karena sebagaimana tersebut dalam Surat At Taghaabun ayat 11, dikatakan bahwa tidak ada sesuatu musibah yang ditimpakan kepada seseorang yang terjadi tanpa ijin Allah dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang beriman kepadaNya. Namun, Allah layaknya orang tua kita yang selalu mempunyai segudang maaf siap memberikan maafnya jika kita meminta kepadaNya. Jika kita masih melakukan hal itu, maksudnya mengingat Allah pada saat susah, alhamdulillah kita patut bersyukur. Artinya penderitaan membuat hati kita lembut karenanya kita mengingat Allah dan mengharapkan pertolonganNya. Allah dengan sifatnya yang Maha Penolong, dengan senang hati pasti menolong hambaNya.

Dalam berdoa, sesungguhnya terkandung niat kita, keinginan kita berikut konsekuensi dari keinginan tersebut apabila doa kita terkabul. Jika untuk mengetahui apa yang kita inginkan saja kita tidak tahu, jangan-iangan kita pun tidak memahami esensi persoalan hidup yang sedang kita hadapi. Allah menyuruh kita berdoa kepadanya agar Dia memperkenankan doa kita sesuai dengan yang kita minta tentunya. Allah juga sudah mengingatkan kita semua mengenai pentingnya memikirkan dua sisi kehidupan kita, yaitu dunia dan akhirat. Betapa pentingnya kita memohon kebaikan dunia dan akhirat. Jangan sampai kita hanya berdoa untuk kebahagiaan di dunia yang fana ini saja, seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Surat Hud ayat 15 dan 16:

15. Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?
Baru-baru ini saya mengikuti suatu pelatihan dimana di dalam pelatihan itu kita diajarkan cara berdoa yang sangat efektif. Saya tidak bermaksud membahas materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut, namun ada hal menarik yang ingin saya bagi dalam tulisan ini yaitu satu pertanyaan yang diajukan oleh seorang peserta pelatihan. Peserta pelatihan tersebut, seorang lelaki usia 40an, mengawali pertanyaannya dengan uraian:

“...bahwa kita sudah diajarkan cara berdoa yang efektif dan kebanyakan dari pendoa akan mendapati doa mereka dikabulkan oleh Yang Maha Pemberi. Faktanya, setelah doa mereka dikabulkan dan nasib mereka berubah, kebanyakan dari mereka malah jadi aneh-aneh, contohnya malah ingin punya istri lagi atau dengan kata lain ingin punya 2, 3, 4 atau mungkin ada yang ingin punya lebih dari 4 istri. Jika demikian ‘efek sampingnya’ [orang tersebut menamakan hal tersebut efek samping], bagaimana cara mengatasinya. Mestinya penyelenggara juga mengingatkan akan adanya efek samping seperti itu.”

Orang tersebut mengajukan dua pertanyaan dan ‘efek samping’ tadi adalah salah satunya. Pembicara menjawab pertanyaan yang pertama, tetapi dia tidak membahas pertanyaan yang kedua mengenai efek samping tadi.

Sebenarnya saya agak penasaran, ingin mengetahui apa kira-kira jawabannya, namun karena jawaban tersebut tidak kunjung tiba, saya terus memikirkannya. Saya belajar dalam pelatihan tersebut bahwa kita harus mengetahui lebih dahulu apa yang kita inginkan. Lalu, kita harus berani mengakui kekhawatiran atau keraguan kita mengenai tingkat kesuksesan dikabulkannya doa kita. Tahap akhir adalah mengikhlaksan seluruh keraguan kita dengan menyerahkannya kepada Allah swt, Dialah Sang Maha Mengetahui, Maha Memutus dan Maha Memberi. Setelah tahap kedua itu, kita membayangkan kondisi dimana doa kita sudah terkabul dan betapa bersyukurnya kita. Hal tersebut mengikuti cara kerja alam kuantum hati yang tidak mengenal penanda waktu, kemarin atau besok, sudah terjadi atau baru sebatas angan. Namun dengan demikian, dengan telah berhasilnya kita menyatukan pikiran dan perasaan kita, menjadikan pikiran dan perasaan menjadi sangat powerful dan mengaktifkan kemampuan elektromagnetis kita sendiri.

Sebelumnya dalam sesi lain ada hal yang menarik lainnya, ada pertanyaan kepada kita, kenapa kita menginginkan doa kita terkabul. Artinya kita harus memahami kenapa kita meminta sesuatu. Kita harus tahu alasan yang menjadi motif kita dan ada lagi sesi yang membahas mengenai apa kira-kira pendapat Tuhan mengenai permintaan kita tadi, apa yang membuat Tuhan mau mengabulkannya.
Kiranya saya menemukan jawaban pertanyaan dari peserta tadi mengenai efek samping dari dikabulkannya doa kita di dalam dua sesi sebelumnya tersebut, yaitu kemampuan mengidentifikasi motif kita dan perkiraan alasan Tuhan mengabulkan doa. Keduanya sejatinya merupakan esensi dari deal kita dengan Tuhan. Contohnya, kita berdoa agar dibebaskan dari hutang dan diberi rejeki yang berllimpah agar bisa menjadi orang yang amanah dan banyak membantu sesama. Jika kita aplikasikan langkah dalam pelatihan, kita mulai dengan menyatakan keinginan dan mengikhlaskan keraguan kita. Lalu pada perjalanannya, setelah doa kita terkabul, pada saat kita sudah tidak mempunyai hutang, kita menjadi tidak amanah, kita sulit untuk berbagi kepada sesama, harta menjadi obsesi kita, bahkan kita lebih suka membayangkan berganti atau menambah istri setiap beberapa waktu sekali. Jika terjadi hal seperti itu, dimana letak kesalahannya?

Jika kita menyadari pada saat kita menyampaikan motif kita, sesungguhnya Allah meridhoi motif kita tersebut. Saya yakin tidak akan ada orang yang berani sejak awal memohon kepada Allah agar diberi kelimpahan rejeki (tentunya pada saat dia masih miskin) agar dapat berganti istri atau memiliki istri sebanyak-banyaknya. Allah mengabulkan doa kita atas dasar janji yang kita sampaikan saat itu. Jika kenyataan yang terjadi justru berbeda, tentunya hal itu adalah 100% penyimpangan dari niat kita yang dulu oleh kita sendiri. Kita sudah menghianati janji kita kepada Tuhan. Betapa beraninya kita?
Memang tampaknya menjadi tabiat manusia, lupa. Manusia mudah melupakan apa yang sudah dijanjikannya, baik kepada dirinya sendiri, kepada manusia lain atau bahkan yang paling nekat adalah janji kepada Tuhannya. Sering kita dengar dua orang atau lebih bermufakat untuk sesuatu, mereka menjanjikan akan memberikan sesuatu imbalan kepada pihak lainnya jika berhasil melaksanakan permufakatan mereka. Dalam hal demikian saja, jika salah satu dari mereka tidak melaksanakan kesepakatan, bisa jadi orang-orang yang merasa dikhianati akan bereaksi. Reaksi mereka bisa macam-macam, jika perjanjiannya tertulis, mereka akan mulai mengirimkan somasi, mengajukan gugatan, dsb, sampai janji orang tersebut terpenuhi. Jika kesepakatan dibuat hanya lisan atau gentlemen agreement, maka langkah yang diambil juga bisa beragam, mulai dengan cara halus atau persuasif sampai dengan mengirimkan preman tukang pukul untuk menakuti orang yang berkhianat, bahkan tidak jarang sampai terjadi pembunuhan.

Begitu jika janji kepada sesama manusia tidak dipenuhi, lantas, bagaimana kira-kira konsekuensi jika janji yang dikhianati adalah janji kita kepada Sang Maha Kuasa? Manusia yang lemah saja bisa berbuat sangat kejam kepada satu sama lainnya, bagaimana dengan Sang Maha Kuasa?

Allah telah berfirman kepada kita semua di dalam Surat Yunus [QS.10] ayat 12:
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

dan dalam Surat Az Zumar [QS 39] ayat 49:
Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Allah memiliki hak penuh untuk menetapkan waktu pembalasan atas perbuatan kita, bagaimanapun hari perhitungan terakhir yang dijanjikanNya pasti akan tiba. Allah Maha Kuasa, tidak ada kerugian bagi Allah sedikitpun jika kita setelah mengadakan deal denganNya lalu menghianatiNya. Segala kewajiban jikapun dijatuhkan kepada manusia semata untuk kepentingan manusia itu sendiri, Allah Maha Kaya, tidak ada satupun kebutuhanNya terhadap kita makhluk ciptaannya yang lemah ini.

Allah pemilik Surga dan Neraka, Dialah pemilik kehidupan yang kekal, jika kita memahami hidup kita saat ini hanya sementara saja, tentunya kita tidak akan membiarkan niat menghianati Tuhan kita terlintas di dalam pikiran maupun hati kita. Jika kita sadari menghianati janji kita sendiri kepada Tuhan kita adalah perbuatan sia-sia, selepas nyawa kita dari raga ini, tidak ada tempat kembali selain kepadaNya. Lazimnya, jika manusia tahu bahwa dia tidak akan mungkin melepaskan diri dari dampak suatu perbuatan, barangkali dia akan berpikir sejuta kali untuk melakukan suatu kejahatan. Namun, kadang setan membuat bayangan seakan seseorang mampu menghindar dari tanggung jawabnya, termasuk pula menghindar dari tanggung jawab kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Tidak setiap kali pelanggar janji kepada Allah langsung mendapat teguran atau jeweran di telinga. Namun janji Allah untuk segala sesuatunya sudah sangat jelas, jika seseorang menghianati janjinya atau motif doanya dulu pada saat dalam kesulitan dengan sikap yang jumawa, kesombongan, kebanggaan diri yang berlebihan, maka tinggal tunggu waktu saja kapan ia akan mendapati siksa yang pedih, kehinaan, sebagaimana yang telah Allah timpakan kepada setiap manusia, golongan, bangsa yang terhebat yang menjadi sombong pada tiap-tiap jamannya. Belum pernah ada satu manusia sombong di muka bumi ini yang mampu menang melawan Allah, lantas kenapa kita sampai merasa kita adalah pengecualian?

Allah telah memberikan kita akal yang sangat cukup untuk menilai, mencerna apa saja konsekuensi dari suatu tindakan yang didasarkan pada kesombongan. Setiap kali membicarakan hal yang menyangkut kesombongan, tidak ada referensi lain yang lebih valid selain dari kisah Karun. Al Quran menyebutkan mengenai kesombongan Karun seorang manusia yang termasuk dalam kaum Nabi Musa. Demikian suksesnya ia saat itu sehingga banyak orang yang mengaguminya. Allah mengaruniakan kekayaan dan kesuksesan yang luar biasa kepadanya, hingga pada satu titik kesombongan Karun telah menghancurkan segalanya, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Qashash [QS 28] ayat 78 :

Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Karun adalah seorang manusia yang kisahnya disebut secara khusus dalam Al Quran, artinya Allah ingin memperingatkan kita mahluk yang bodoh ini, janganlah menjadi ‘karun-karun’ berikutnya hanya karena kita punya pangkat yang tinggi sedikit, kelebihan kekayaan, wajah yang rupawan, gelar doktor, profesor yang berhasil kita sandang, lantas dengan pongahnya keluar dari mulut kita bahwa segala pencapaian kita itu semata karena kehebatan atau kepintaran kita sendiri, inginkah kita nasib seorang Karun menimpa kita pula kelak? Naudzubillah.

Kembali ke pertanyaan mengenai efek samping tadi. Jika kita berdoa agar menjadi orang sukses dan menjadi orang kaya, lalu Allah mengabulkan doa kita, maka ingat-ingatlah apa yang menjadi motif kita saat itu. Agar tidak lupa, lebih baik kita catat betul-betul dalam hati kalau perlu secara tertulis, apa motif kita pada saat berdoa agar keluar dari kesulitan kita dalam suatu masa. Adakah beristri lebih dari 1 orang menjadi bagian dari motif kita saat itu? Jika tidak ada, dan besar kemungkinannya tidak ada, maka semestinya kita merasa malu bahkan semestinya takut untuk melakukan penyimpangan dari doa kita dulu. Itu jika kita mau berpikir, Allah selalu mengatakan demikian kepada hambanya, “Jika kalian berpikir”. Benar sekali, karena setiap tindakan kita semestinya diambil dengan melewati proses berpikir, menggunakan akal kita, mendengarkan hati nurani kita, bukan semata menuruti hawa nafsu. Menilai segalanya berdasarkan perintahNya dan menjauhi laranganNya semestinya cukup bagi kita sebagai tuntunan dalam bersikap selama hidup di dunia fana ini. Tindakan di luar itu semua semata merupakan wujud dari kenekatan manusia terhadap perintah Tuhannya.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Demikianlah sharing saya kali ini, jika ada kata-kata yang tidak berkenan, saya mohon agar dapat dimaafkan. Semoga kita semua senantiasa dalam lindunganNya dan dicurahi rahmat serta hidayahNya serta dijauhkan dari sifat sombong maupun riya. Amin.

Rasuna, 9 Maret 2010
Nela Dusan

/lym 17/04/2010

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.