Sunday, March 21, 2010

Selamat Datang Minggu


Sudah hari Minggu lagi. Pagi yang nyaman. Akhir pekan yang akan dilalui lebih santai dari hari-hari sebelumnya. Betapa hari lewat begitu cepat. Kadang datar, kadang bergejolak. Cepat bagi orang-orang yang kebetulan tidak menunggu apapun, namun lama sekali rasanya bila ada sesuatu yang dinanti di hari selanjutnya.

Hari Minggu yang leluasa. Selapang jalanan di Jakarta yang tiada menit tanpa macet. Motor mobil bis berpesta asap dan debu sepanjang hari. Dan tentu berkurang lumayan di hari Minggu. Kesempatan untuk pergi agak jauh dari rumah memang sebaiknya sekarang. Tak ada jalanan yang bagai pepesan padat bagai sesaknya sardencis di kaleng.

Hari Minggu adalah waktu yang membuat orang bisa bernafas lebih panjang. Dan mata memandang lebih jeli. Yuk.. iseng-iseng kita amati satu persatu. Sudahkan kita mengintip isi dapur dan kulkas? Persediaan makanan masih cukupkah? Dan yang lebih penting karena sering terabaikan khususnya bagi para Ibu, pernahkah menyempatkan diri memeriksa lemari dapur? Adakah tersimpan panci wajan yang sudah berpantat hitam atau gompel bagian gagangnya? Layakkah spons untuk menyabun gelas piring sendok kita? Bak air yang sehari-hari digunakan, apakah tiap saat disikat rapi? Belang bontengkah warna piring gelas kita yang layak dipajang di atas meja makan? Bersihkan isi kulkas kita dari bercak-bercak sambal dan kuah gulai? Dan seperti apa pula serbet untuk mengeringkan piring-piring kita? Cukup bersihkah? Sudahkah pula selalu memisahkan antara lap pel yang digunakan di teras luar, dapur dan bagian belakang, dengan lap pel untuk mengepel lantai di ruang tamu, kamar tidur dan ruang keluarga? Atau terbiasa semua dicampur aduk menjadi satu?

Hari Minggu adalah hari yang butuh sensitifitas tinggi. Sensitif pada kebersihan, yang selayaknya tidak hanya berlaku pada hari Minggu, bukan? Namun mungkin bagi sebagian orang, memang hari libur inilah yang lebih berpeluang untuk menatap teliti seisi rumah kita.

Pudarkah warna baju-baju anak kita? Bagaimana pula dengan kancing yang hampir setengah lepas dari baju-baju bayi, yang kalau didiamkan akan sangat berbahaya bagi mereka? Higeniskah panci untuk pemanas botol susu mereka? Sudah dipisahkankah peralatan makan bayi dengan piring sendok dewasa? Bagaimana pula dengan mainan-mainan mereka yang sudah tidak begitu layak dan bisa menimbulkan masalah? Masih ingin dipertahankan karena sayang dibuang?

Amati kamar mandi kita. Adakah tiap hari tersentuh sikat dan kain untuk membasuh bersih seluruh lantai, tembok maupun WC dan bak wastafel pencuci tangan? Tak akan ada guratan bekas air yang menguning apabila kebersihan tiap hari terjaga. Bandingkan dengan kamar mandi yang selalu dibiarkan basah sepanjang hari, tentu lembab dan pemandangan sangat tidak cerah jadinya. Yang lebih sering terabaikan, kapan terakhir membuang sikat gigi kita? Masih mau dipertahankan berbulan-bulan sampai bulunya tersebar mekar ke kiri dan ke kanan? Hiiiii….!!

Di mana letak kotak obat-obatan kita selama ini disimpan? Amankah dari jangkauan anak kecil? Barangkali antara jenis obat sakit perut dan obat sakit kepala serta obat alergi hanya disimpan tercampur aduk dalam satu tempat yang sama. Ada baiknya satu kantong plastik khusus obat sakit perut ( yang untuk keram perut, mules biasa, maag maupun karena murus-murus) dijadikan satu. Misalnya, zantac, buscopan, pantozol, nexium, norit, imodium, diatabs dan yang sejenis, dalam satu kotak atau plastik yang sama. Lalu obat-obat sakit kepala seperti paramex, ponstan, panadol merah, juga dalam tempat yang dijadikan satu. Obat alergi semacam claritin dan incidal, juga di kantong lain lagi. Obat demam dan flu seperti panadol, intunal dan sebangsanya juga dipisahkan dari obat-obatan lain. Suatu saat, bila diperlukan dengan buru-buru, sudah kita tahu di mana mencarinya berdasarkan tempat yang sudah tertulis ‘obat sakit kepala’ atau ‘obat alergi’ dan yang lainnya lagi.

Coba di hari Minggu ini kita buka lemari pakaian yang sehari-hari kita buka tutup di hari kerja. Wow… acak adulkah? Di mana letak bagian baju tidur, baju dalam, dan baju sehari-hari? Sudah cukup rapi terpisahkah dengan lipatan yang necis? Lalu bagaimana dengan gantungan baju yang selama ini kita pakai? Gantungan berwarna hitam tipis sebaiknya dibuang saja karena sering berbahaya bagi anak-anak dan bisa merusak baju. Ada bagian tajamnya di bagian tengah. Juga gantungan yang terbuat dari kawat, ujungnya bisa melukai tubuh anak bila suatu saat iseng-iseng mereka mainkan. Perlukah menyimpan baju-baju lusuh yang sudah tidak kita pakai lagi? Ada tukang sampah yang tiap hari datang, ada orang-orang lain yang mungkin masih membutuhkan baju bekas semacam itu. Sebaiknya dibuang sembari merem mata saja daripada masih penuh dengan pertimbangan.

Lukisan di tembok seringkali terlupakan disapu bersih pinggirannya dengan kain halus. Debu menempel di bingkai berminggu-minggu tanpa disadari. Biasakanlah untuk melapnya sehari dua kali. Bukan seminggu sekali. Dan sering pula lukisan dan bingkai-bingkai foto ditembok terletak miring-miring tak tertangkap mata dengan jeli oleh si empunya rumah.

Ingat jugakah sesekali sofa dikeluarkan , dijemur di halaman? Bantalan sofa yang kurang diperhatikan si pemilik, seringkali dihiasi bercak-bercak dan bau apek. Biasanya tamu yang baru semenit masuk sangat mudah mencium bau tak sedap dari rumah seseorang, yang mungkin timbul dari bantalan kursi, dari sofa dan karpet yang jarang sekali mendapat udara segar apalagi dibersihkan.

Satu hal yang menjadi kebiasaan pemilik rumah manapun, yang punya rumah mewah maupun sederhana, pintu menuju ruang tamu jarang sekali dibuka. Si empunya rumah bila pulang dari mana-mana akan melewati pintu garasi, langsung menembus dapur dan menuju ruang keluarga. Mengapa tidak masuk dari pintu depan sebagaimana layaknya kalau tamu masuk? Ruang tamu kan dipajang seapik mungkin, sesungguhnya bukan untuk tamu saja, tapi untuk si pemilik rumah itu juga. Maka nikmatilah ! Jadilah seakan-akan kita tamu di rumah itu, masuk dari pintu depan, dan tengok sekejap, nikmatilah pemandangan dengan pajangan-pajangan yang kita miliki di ruang depan itu, seolah-olah kita baru pertama kali menginjak rumah itu.

Tak dapat dipungkiri, seringkali juga ruang keluarga lebih ‘butut’ penampilannya ketimbang ruang tamu. Sehari-hari menikmati sofa yang belel, kusam, di ruang keluarga - sementara kalau tamu datang tentu akan menikmati ruangan yang lebih necis dan keren. Wah…, untuk apa harus seperti itu? Rumah kita untuk kita, bukan untuk tamu! Yang prioritas menyantap pemandangan keindahan dan kenyamanan rumah kita ya diri kita sendiri, bukan orang lain yang hanya datang sesekali.

Kembali bukalah rak piring sendok gelas. Kadangkala ada gelas sehari-hari yang dipakai, lalu ada gelas yang untuk menyuguhi tamu minum. Untuk apa? Mengapa harus ada pembedaan semacam itu? Keluarkanlah semua gelas piring sendok cantik kita. Barang-barang itu dibeli untuk kita nikmati sepuasnya, bukan untuk menunggu orang lain yang muncul di rumah kita.

Coba intip kisi-kisi dan sudut lampu dinding kita. Debu bersarang di sanakah? Juga tembok yang bekas tempelan telapak tangan hitam coklat, sampai berapa lama akan didiamkan? Tungguh hajatan atau menyambut lebaran baru dibersihkan? Padahal menggosoknya dengan air sabun dan kain bersih, semua tertangani dan menjadi kinclong kembali. Ingatlah, bersih bukan berarti harus mewah dan mahal.

Hirup udara segar di kebun kita. Halaman seluas apapun, atau hanya terbatas, tetap bisa terjaga keasriannya. Rumput menjalar tak teratur, tanaman yang serampangan bercampur seribu macam rupa akan membuat halaman menjadi ‘puyeng’ dipandang. Apalagi kalau memiliki halaman yang terbatas kecil, tapi masih ‘maksa’ mendisainnya dengan gundukan-gundukan rumput bagai kuburan kecil. Kurang oke rasanya ya? Dan menjadikan halaman kita yang sudah sempit semakin sempit.

Hari Minggu yang nyaman…, sesekali bermata jelilah kita untuk rumah kita. Syukur-syukur kalau pengamatan cermat itu memang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari sehingga hari Minggu bukan menjadi hari istimewa bagai polisi sidak ke bilik penjara.

Oya, sebelum lupa, bagi wanita muslim, intip deh mukenah yang sehari-hari dipakai. Berapa hari sekali mengganti mukenah? Masih banyak wanita yang sholat dengan mukenah yang dipakai sampai seminggu dua minggu tanpa dicuci. Padahal, di bagian kening dan leher sudah menempel bekas bedak dan debu lain. Bukankah kita mengganti baju dan pakaian dalam setiap hari? Mengapa peralatan sholat untuk kita khusyuk menyapa DIA begitu terabaikan dan tidak berganti pula tiap hari, paling tidak dua tiga hari sekali?

Selamat datang, Minggu….!! Masih banyak lagi yang bisa kita tengok di hari Minggu seputar kehidupan kita … di Istana kita yang mungil, yang sedang, yang besar…, yang penting adalah menciptakan rasa nyaman, karena bersih tentu akan membetahkan si penghuninya. Kebersihan adalah bagian dari iman, bukan?

/lym 21/03/2010
From : Catatan Linda Djalil Facebook

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.