Tuesday, February 16, 2010

Menyerahkan Hati

Sore, menjelang magrib,
melewati jalan-jalan di Jakarta yang tidak pernah sepi apalagi lengang
aku rasakan pedih yang masih menghampiri hati
meski telah berusaha kusingkirkan
namun masih terasa sedih yang tak terungkapkan
merasakan kehilangan sebelum sesuatu benar-benar hilang
lunglai seakan esok pasti tak kan kujumpai lagi

Aku hanyalah manusia biasa
satu debu di alam fana ini
Sungguh aku pahami kefanaan rasa yang menghantui hati
Yang seolah tak pernah lelah bertarung melawan nurani
Jika kalbu mesti berpura menjadi hakim
tentu pun tahu siapa yang harus dimenangkan

Air mata seakan tak ingin kalah menyemangati rasa aneh yang melingkupi jiwa
Meski menangisi kesia-siaan terus setia mengalir dalam rongga dada
membuat penuh sesak rasa

Haruskah aku mengalah demi rasa picisan ya Allah
tentu tidak harus begitu... kalbu berbisik
Namun bisikannnya tidak cukup lantang untuk meningkahi bisingnya jalan...
tentu aku tidak boleh kalah...kini berteriak nurani mengatasi riak tangis yang kian berisik

Siapa yang mau mengalah hai jiwa yang resah..
sungguh tak pantas rasamu mendesak
sungguh tak berilmu angan dan akalmu...

Kini aku terduduk di sini ya Rabb
menyadari siapa diriku
takkan kubiarkan diriku mengalah pada karsa yang bukan hak
Kan kusumbat telingaku dari bisikan jiwa yang rusak...
menjadikanku robot...
menghalangi syukur...
kan kututup keran airmata sia-sia...
kukosongkan kalbuku...
perlahan kubiarkan kalbu mendesahkan syukur
lantas bergegas... bersiap berserah kepadaMu...
aku ikhlas ya Tuhanku, angkatlah rasa sakitku...

Roxy, 2 Feb 2010
Nela Dusan

Catatan dari seorang sahabat Nela Dusan
/lym 16/02/2010