Wednesday, January 6, 2010

Ulang Tahun


Menjelang ulang tahun adalah saat-saat yang paling menakutkan dalam hidup saya. Ada trauma masa kecil yang terus memenuhi alam bawah sadar saya. Perasaan itu selalu muncul menyeruak ke permukaan menjelang saya berulang tahun.

Tidak banyak yang tahu, tidak juga istri dan anak-anak saya. Pada awalnya mereka merasa aneh jika saya meminta untuk tidak memberitahu atau mengingatkan siapa pun, termasuk kerabat dekat bahwa hari itu saya berulang tahun.

Sewaktu di sekolah dan ketika menjadi mahasiswa, saya selalu berusaha menyembunyikan tanggal kelahiran saya. Saya selalu berharap tidak seorang pun mengingatnya. Begitu pula ketika sudah bekerja. Saya ingin tidak seorang pun di kantor yang mengingat hari ulang tahun saya. Bagi banyak orang, sikap saya ini dianggap aneh. Tidak lumrah. Tetapi trauma itu sungguh sulit lepas dari ingatan.
Semua bermula ketika saya duduk di bangku SD kelas tiga. Suatu hari, ada teman sekelas ulang tahun. Semua murid di kelas itu diundang ke pesta ulang tahunnya. Undangan itu disambut gembira seisi kelas. Apalagi bagi yang tidak punya kendaraan, disediakan mobil antar jemput.

Sesampai di rumah, perihal undangan ulang tahun itu saya sampaikan kepada ibu. Sulit menerjemahkan pancaran mata ibu kala itu. Bahagia atau sebaliknya sedih. Tetapi saya dapat menduga-duga pikiran ibu. Sebab setiap kali ada acara spesial, persoalan yang sama akan kami hadapi: saya tidak punya baju pesta.

Semasa kecil, saya hanya mengenal dua jenis pakaian. Seragam sekolah dan baju bermain. Keduanya sama-sama kumal. Bahkan untuk celana, saya lebih sering memakai celana sekolah untuk bermain. Celana yang harus saya jaga agar tidak kotor. Sebab jika kotor, malamnya saya terpaksa harus mencucinya, menggantungnya di atas tempat tidur, dan pagi harinya diseterika dalam keadaan masih setengah basah. Bau kain basah yang diseterika biasanya lama hilang. Terbawa sampai ke dalam kelas.
Biasanya gara-gara itu saya akan terlambat masuk sekolah. Sebab jangan membayangkan seterika listrik seperti sekarang. Waktu itu seterika yang saya pakai menggunakan arang. Arangnya dimasukkan ke dalam seterika, dibakar lalu dikipas-kipas -- seperti tukang sate -- sampai arang tersebut membara lalu bagian atas seterika ditutup. Arang itulah sumber panas yang dibutuhkan untuk menyeterika. Prosesnya memakan waktu lumayan lama.

Kepada ibu, saya katakan ingin sekali datang ke pesta ulang tahun itu. Menurut teman yang berulang tahun, di acara itu akan ada pemutaran film Abbot & Castelo, film komedi yang sedang digemari saat itu (selain Charlie Chaplin). Walau film hitam putih dan tak bersuara, menonton film Abbot & Castelo adalah impian setiap anak pada masa itu.

Ibu tersenyum. “Ibu akan buatkan kamu baju pesta yang hebat,” ujarnya sambil memeluk saya.
Maka sepanjang malam saya mendengar mesin jahit tua milik ibu bekerja keras. Mesin jahit yang menjadi tumpuan hidup setelah kami setelah ibu berpisah dari ayah. Saya tak sabar melihat hasil karya ibu. Selama ini saya hanya melihat ibu menjahitkan pakaian untuk langgananya. Tetapi kali ini ibu sedang menjahit baju pestaku!

Saya tertidur pulas ketika suara mesin jahit masih berdenyit. Seakan menjerit-jerit karena dipaksa bekerja keras. Paginya, ketika membuka mata, sepasang baju dan celana sudah terlipat rapih di dekat bantal saya. Bau harum kain baru segera menyergap penciuman saya.

Saya ingat persis warna dasarnya merah tua. Bergaris hitam kotak-kotak. Baju itu berlengan pendek. Begitu juga celananya, celana pendek. Ibu menambahkan sepotong kain sebagai dasi, yang dapat dipasang dan dicopot dengan mudah karena memakai kancing pencet.

Sore itu saya memakai baju baru ketika mobil jemputan tiba. Pujian ibu masih terus mengiang sepanjang perjalanan menuju pesta. “Kamu ganteng sekali dengan baju baru itu,” ujarnya.

Kalimat dukungan itu mungkin diucapkan ibu karena melihat kegalauan di mata saya. Jujur, saya merasa warna merah adalah warna perempuan. Saya merasa canggung dengan warna itu. Hal lain yang menggangu pikiran saya, celananya terlalu pendek. Hanya beberapa sentimeter dari pangkal paha. Kalau jongkok, celana dalam saya kelihatan.

Tetapi ibu berkali-kali membesarkan hati saya, bahwa saya terlihat tampan dengan baju baru itu. Setengah percaya, setengah ragu, saya akhirnya berangkat. Di dalam mobil jemputan sudah ada beberapa teman. Mereka saling berbisik ketika melihat baju yang sya pakai. Saya tidak mengerti apa yang mereka bisikan. Saya juga tidak perduli. Pikiran saya sudah penuh dengan keinginan untuk segera menonton film Abbot & Castelo.

Sesampai di rumah teman saya, halaman sudah penuh dengan anak-anak dengan wajah gembira. Balon warna-warni di mana-mana. Saat itu rumah teman saya seperti istana yang sangat luas dan indah. Ada kolam renang di halaman belakang.

Baru pertama kali dalam hidup, saya melihat sendiri rumah yang ada kolam renangnya. Selama ini saya hanya bisa membayangkan dan mengkhayalkannya. Saya tidak percaya ada rumah yang punya kolam renang sendiri, sampai hari itu saya melihat dengan mata kepala sendiri. Saya takjub.
Saya membayangkan teman saya bisa berenang kapan saja dia mau. Tinggal nyebur. Sementara buat saya, ke kolam renang umum dalam setahun boleh di bilang hanya dua kali. Itu pun kalau ibu sedang mendapat borongan jahitan.

Saya lalu mencoba membandingkan rumahnya dengan “rumah” saya, yang berupa garasi yang disulap menjadi tempat tinggal. Garasi berukuran sekitar 4 X 4 meter itu disewa ibu dan diubah menjadi tempat tinggal. Ada sebuah tempat tidur untuk ibu dan kedua kakak perempuan saya (tapi saya lebih sering melihat ibu tidur di lantai beralaskan kain). Ruangan tersebut semakin sempit karena ada mesin jahit dan tumpukan kain.

Di belakang garasi ada kamar ukuran 2 X 3 meter. Itu kamar pembantu. Tetapi oleh pemilik rumah disewakan juga kepada kami. Di situlah saya tidur sehari-hari. Dengan kondisi “rumah” seperti itu, tidak heran jika setiap kali teman-teman sekolah saya bertanya kapan giliran saya merayakan ulang tahun, jantung saya akan berdetak kencang dan nafas saya menjadi sesak.

Sekarang saya berada di sebuah rumah yang luas dan megah bak istana. Kontras sekali dengan “rumah” saya. Saya tidak pernah membayangkan dalam hidup saya, saya pernah menginjakkan kaki di sebuah istana. Dalam pandangan kanak-kanak saya, rumah teman saya itu luas sekali. Bahkan ukuran garasinya empat kali lebih besar dari “rumah” saya.

Begitu saya memasuki ruangan tengah, meledaklah tawa teman-teman. Dari tadi rupanya mereka sudah tidak tahan untuk mengomentari baju pesta saya. Mereka menunjuk-nunjuk baju saya sembari tertawa. Malam itu saya menjadi obyek olok-olok mereka. Teman laki maupun teman perempuan. Semua menertawakan penampilan saya. Malam itu saya menjadi bulan-bulanan.

Sampai detik ini, sumpah, saya tidak pernah tahu apa yang menjadi sumber kelucuan yang membuat mereka terpingkal-pingkal. Kalau boleh menebak, saya menduga warna baju dan model celana super pendek itulah pangkal persoalannya. Warnanya warna perempuan, sementara bahannya sangat minim seakan kekurangan bahan. Tadinya saya pikir dasilah sumber perkaranya. Tetapi ketika dasi sudah saya copot, ternyata tawa mereka tak kunjung berhenti.

Malam itu menjadi malam jahanam. Rasanya saya ingin berlari pulang dan menangis di pangkuan ibu. Saya ingin dipeluk. Bahkan Abbot & Castelo tak mampu menghibur saya. Dua film pendek yang diputar malam itu rasanya tak kunjung selesai. Serasa berabad-abad. Saya sedih, terhina, dan sakit hati. Sejak itu saya benci pesta ulang tahun.

Ibu menyadari saya tidak bahagia malam itu. Tetapi sampai ibu meninggal, saya tidak pernah mengungkapkan apa yang terjadi malam itu. Apalagi ketika belakangan saya tahu bahwa bahan baju pesta itu ibu “ambil” -- tanpa disadari pemiliknya -- dari sebagian bahan baju salah satu perempuan langganannya.


/lym 05/01/2010 @ 02.10 pm

Sumber :
http://kickandy.com/corner/2009/12/03/1732/21/1/5/Ulang-Tahun