Friday, January 22, 2010

Terkadang Kebahagiaan Itu Sangat Sederhana


Sudah sangat lama saya tidak pulang ke kampung halaman, tapi hingga saat ini saya masih belum bisa menyempatkan diri untuk pulang, hal ini membuat saya merasa sangat rindu akan rumah.Teringat kali terakhir pulang kampung, terlebih dahulu saya menelepon, seluruh sanak keluarga menyambutnya gembira. Ketika saya berada di dalam mobil, seperti halnya dalam ingatan saya waktu itu, perasaan di dalam hati ini ada sedikit ketidak sabaran, dan di dalam ketidak sabaran itu ada rasa bahagia.

Setelah sekian lama berpisah, setiap orang pasti mendambakan untuk pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga. Sore itu, ketika kereta api perlahan-lahan memasuki stasiun, dari jendela kereta saya sudah melihat ayah dan adik laki-laki dan perempuan saya dari kejauhan, mereka berdiri di pintu keluar stasiun dan memandang ke arah kereta yang sedang memasuki stasiun. Setelah ayah dapat menemukan saya, dengan riang beliau membantu membawakan tas saya.Sebenarnya saya sudah sedemikian dewasa, bukan lagi seorang anak kecil, lagi pula tas itu juga tidak berat. Tapi melihat ayah sedemikian gembiranya, maka saya pun masih berkelakuan seperti saat saya masih kecil, menyerahkan tas itu dengan patuh kepadanya.

Tapi adik laki-laki saya segera merampas tas itu. Seketika itu juga ayah tertawa terbahak-bahak. Adik lelaki saya sudah lebih tinggi dibanding ketika saya pergi meninggalkan mereka tahun lalu, adik perempuan saya juga sudah semakin dewasa dan cantik. Dalam perjalanan ke rumah, kami berbincang dengan riang gembira.

Setelah melewati suatu belokan yang berjarak hanya 100 meter dari rumah kami, saya sudah melihat ibu sedang berdiri di depan pintu, sedang memandang ke arah kami.

Begitu tiba di rumah, kakak tertua dan istri, serta kakak kedua dan istrinya juga, keluar menyambut kedatangan kami, bersama dengan dua orang kemenakan saya sambil bersenda gurau. Ibu turun tangan sendiri memasak air, menyeduh sepoci teh. Lalu duduk di samping saya sambil memandangiku dengan cermat, membuat saya merasa risih. Ipar tertua dan kedua saya sedang memasak di dapur, saya tidak tahu apa saja yang mereka perbincangkan, hanya suara ha… ha… ha… yang terdengar tiada henti. Kakak pertama dan kedua sedang duduk bersama bermain catur militer (Jun Qi).

Sejak kecil mereka berdua sudah tergila-gila bermain Jun Qi, teknik permainan mereka sangat bagus, kekuatan mereka berdua juga hampir seimbang. Tapi jika berbicara mengenai catur Tiongkok (Xiang Qi), mereka berdua sangat lemah. Ayah sering menertawai mereka berdua sebagai si Buta Catur. Ayah lalu mengeluarkan seperangkat Xiang Qi dengan wajah berseri, mengajak saya bermain catur dengannya.

Bicara soal Xiang Qi, saya bisa bermain Xiang Qi berkat diajari oleh ibu. Soal teknik bermain Xiang Qi ibu memang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, ibu hanya dapat menjalankannya saja. Lain halnya dengan ayah, beliau adalah jago Xiang Qi di dalam keluarga kami.

Sewaktu kecil, sayalah yang paling tak berguna. Sering kali menangis jika kalah bermain catur. Sewaktu ayah mulai mengajak saya bermain catur, beliau mengalah dengan tidak memainkan benteng, kuda dan gajahnya. Walaupun demikian, ditambah dengan bantuan orang lain pun, saya selalu saja kalah, tidak pernah menang.

Seiring dengan pertumbuhan saya, teknik bermain catur saya pun semakin tangguh. Sewaktu bermain dengan ayah, beliau mulai mengurangi bobot mengalahnya, hanya mengalah benteng dan kuda, atau benteng dan gajah. Lama kelamaan hanya mengalah satu benteng saja, atau hanya mengalah kuda atau gajah.

Hingga berumur 16 tahun, saya sudah bermain setara tanpa ayah harus mengalah. Walaupun saya lebih sering kalah, tetapi yang penting ayah sudah tidak perlu mengalah lagi. Saat berusia 18 tahun, teknik permainan catur saya sudah tak kalah dari ayah. Bahkan acap kali saat bermain catur, pasukan ayah saya babat hingga porak poranda.

Teringat suatu saat ketika kami sedang bermain catur, karena perhitungannya kurang cermat, beliau baru menyadari kesalahannya kemudian, namun semua sudah terlambat. Saat itu beliau hendak membatalkan permainan caturnya. Sebelumnya ayah tidak pernah membatalkan langkah dalam permainan caturnya, tapi ketika itu mungkin beliau merasa tidak dapat menerima kekalahannya itu sehingga bersikeras hendak membatalkan langkahnya itu.

Waktu itu timbul kenakalan saya untuk tidak membiarkan ayah membatalkan langkahnya. Saya masih teringat jelas, ayah sangat marah sambil berdiri dan berkata, “Percuma saja ayah membesarkanmu hingga dewasa, masa membatalkan langkah catur saja tidak boleh.” Sejak saat itu ayah jarang sekali bermain catur dengan saya.

Hari ini, ayah terlihat dengan antusiasnya, mengubah sebuah meja kecil menjadi ajang pertempuran catur. Segenap anggota keluarga mengelilingi kami berdua, menyaksikan siapa yang lebih unggul.
Sama seperti dulu, saya memilih bidak merah dan mendapat giliran pertama. Setelah lebih 10 menit bermain, saya melihat ayah sedang mengamati catur, sambil tangan ayah merogoh ke dalam sakunya mencari rokok, seperti kebiasaannya dulu.

Dulu, jika di dalam permainan catur ayah menjumpai musuh yang berat, konsentrasinya akan termanifestasi dengan merokok. Sebatang rokok akan menggantung di pinggir bibirnya, dihisapnya dalam dalam, lalu dibiarkannya asap rokok mengepul ke atas. Ayah sendiri yang berada di belakang kepulan asap itu seolah menembus kabut rokok memikirkan situasi di atas papan catur, memikirkan langkah berikutnya dengan serius.

Saya menggunakan isyarat mata dengan adik lelaki saya, seketika dia segera menuangkan secangkir teh hangat, lalu meletakkannya di hadapan ayah. Mendadak ayah baru teringat kalau sudah lama berhenti merokok, dengan sedikit linglung ayah tertawa pada kami, namun matanya terus mengamati papan catur, melanjutkan langkah berikutnya.

Melalui kaca mata rabun saya, terlihat rambut putih di kepala ayah lebih banyak dari pada tahun lalu, kulitnya juga semakin keriput. Melihat rona wajahnya yang demikian serius memandangi papan catur, mendadak saya merasakan dorongan hati hendak menangis.

Saya putuskan untuk membiarkan ayah menang, membiarkan ayah menang demi kepuasan hatinya. Sejak usia 18 tahun, ayah jarang sekali mendapat kesempatan menang dari saya.
Saya ingin membiarkan ayah menang, tapi tidak boleh sampai membuat ayah menyadarinya. Karena bagaimana pun juga ayah termasuk pemain ulung. Maka dari itu, kali ini merupakan permainan tersulit bagi saya, hingga pada akhirnya saya mendorong papan catur dan menyatakan diri kalah.
Bukan main girangnya ayah, matanya nampak tinggal segaris karena tertawa senang, persis seperti anak kecil memenangkan permainan catur dengan teman sebayanya, gembira bukan kepalang. Ada suatu kehangatan yang telah lama tidak pernah saya peroleh, membuat saya ada sedikit lepas kontrol. Lalu saya duduk di hadapannya, sambil minum teh, menemaninya tertawa.

Saya masih ingat, malam itu setelah selesai makan malam, kami sekeluarga berkumpul mengobrol bersama. Ayah bersandar di pinggir jendela, memandang pohon bambu di luar sana. Hari itu, ayah benar-benar sangat bahagia.

Ibu berkata pada ayah, “Suamiku, selama ini saya mengira bahwa engkau telah tua. Tapi hari ini begitu melihat dirimu bermain catur dengan anakmu, sepertinya engkau masih belum tua.”
Ayah tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Dia mengalah kepadaku, kamu kira aku tidak tahu?! Anak sudah dewasa, sudah berakal budi, sudah memahami bagaimana membuat sang ayah yang sudah tua ini gembira.”

Ternyata ayah tahu bahwa saya sengaja mengalah padanya. Tapi saya segera tertawa terkekeh dan berkata, “Aduh, ayah… Saya kalah ya sudah kalah, saya kalah dengan tulus hati. Kehebatan ayah masih tak kalah dibanding waktu ayah muda dulu.”

Dengan wajah keriputnya ayah memandangi saya dengan gembira, kehangatan semacam itu, sampai kapan pun tidak akan pernah saya lupakan. Kebahagiaan mungkin memang sangat sederhana, sama sederhananya dengan niat saya untuk mengalah dalam permainan catur.

Sekarang ini saya sering berpikir, entah kapan lagi saya bisa pulang ke kampung halaman dan bermain catur dengan ayah lagi. Masih ingin rasanya saya mengalah, agar ayah dapat menang dengan gembira. (Yuan Daima/The Epoch Times/lin)


/lym
Sumber :
http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/9450-terkadang-kebahagiaan-itu-sangat-sederhana