Thursday, December 3, 2009

Renungan Suami Isteri Setelah Perceraian


Seandainya bisa, kami tidak pernah memilih untuk bercerai…..

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku tidak akan menyalahkan dia yang telah melupakan hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan kami, sebab dalam setiap kali ulang tahunnya, suamiku juga selalu melewatinya dengan lembur di kantor.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku tidak akan berenak-enakan sebelum makan dan bersantai-santai setelah makan, melainkan akan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa perlu diminta, sebab di wajah istriku telah mulai bermunculan kerut-kerut keletihan yang tidak sepadan dengan usianya.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan menyemirkan sepatunya sebelum suamiku keluar rumah untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya, dan bukannya mencari bau aroma tertentu di kerah bajunya.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan membelikannya sebotol krim pelembab (hand lotion) dan memasukkannya ke dalam tasnya secara diam-diam, agar kedua tangan istriku senantiasa mendapatkan kelembutan.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan dengan riang gembira menerima ajakannya untuk membawa kami sekeluarga makan di luar, dan bukannya menyalahkan suamiku terlalu menghamburkan uang.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan sebisa mungkin menolak acara entertainment yang tidak perlu, dan aku akan mempercepat langkahku pulang ke rumah sehabis jam kantor, karena istriku telah memasak makanan untuk kami nikmati bersama.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan sebisa mungkin meredakan percekcokanku dengan ibu mertuaku, karena beliau adalah ibu dari suamiku, sekaligus juga merupakan seorang ibu kedua bagi diriku.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan mengaguminya dengan pandangan bukan sebagai seorang suami, dan menemukan kebaikan-kebaikan istriku.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan memeluk suami-ku yang sedang terbelit masalah, menyemangatinya untuk mengeluarkan semua tekanan yang dipikulnya, agar ia menyadari betapa sungguh rela aku berbagi kebahagiaan, kesedihan, kepiluan, dan kemarahan dengannya.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, aku akan mengabaikan semua pikiran bahwa segala sesuatu yang dilakukan istriku adalah wajar, melainkan aku akan menerima setiap pengorbanannya dengan hati yang penuh syukur dan terima kasih.

Seandainya pernikahan dapat terulang kembali, kami akan memahami bahwa kehidupan yang tenang adalah merupakan hal yang diidamkan setiap manusia. (Wei Xing/secret china/lin)


/lym 03/12/2009 @06.33 pm

Sumber :
http://erabaru.net/