Thursday, December 17, 2009

Kisah Renungan Tahun Baru 1431 H : Kakek tua dan Seekor burung pipit.


Alkisah, seorang kakek di kota Baghdad pergi ke berbagai negeri dengan tujuan untuk mencari kebahagiaan.

Di sebuah oase, dia melihat seekor burung pipit yang sangat indah. Karena indahnya si Kakek kemudian mengejar burung tersebut dan berhasil menangkapnya.

Sang Kakek terkejut taktala Burung Pipit tersebut ternyata bisa bicara. "Duhai Kakek tua yang baik, tolong lepaskan saya, nanti apapun permintaan kakek akan saya penuhi," kata si burung pipit terebut.

"Baik, wahai burung, kalau kamu dapat menjawab pertanyaan saya, maka kamu akan saya lepaskan," kata si kakek.

"Apa pertanyaannmu?", tanya burung pipit.

"Di mana, kapan, dan bagaimana memperoleh kebahagian?"

"Pertama", jawab si burung, "jangan percaya siapa pun kecuali pada Allah, Kedua, jangan berharap sesuatu yang kamu tidak akan sanggup untuk mendapatkannya. Ketiga, jangan pernah sesali masa lalu kamu".

Merasa puas dengan jawaban si burung pipit, si kakek segera melepaskan burung itu. Tapi, begitu dilepas, si burung langsung terbang dan tertawa sambil mengejek sang kakek tua itu.

"Dasar kakek tua bodoh," kata burung pipit itu. "Sebetulnya, kalau kakek tidak melepaskan saya, saya akan memberikan kakek telur emas."

Si kakek sangat menyesal karena melepas burung pipit tadi dan mengejar kembali burung itu. Kali ini si burung pipit lincah sekali terbangnya dan lalu hinggap di ranting pohon cemara. Kakek tua yang sudah penasaran ini lantas berusaha meraihnya dengan memanjat pohon cemara itu, namun karena tulangnya sudah tua ... dia terjatuh lalu pingsan. Burung pipit itu-pun menunggu Kakek tua itu siuman di sampingnya.

Ketika kakek ini siuman, burung tersebut mendekatinya. "Dasar manusia, baru beberapa menit saya beri petunjuk meraih kebahagiaan, kamu sudah lupa lagi. Ingat Kakek, apa yang saya katakan tadi. Kakek jangan percaya pada siapa pun kecuali Allah! Saya ini burung, mengapa Kakek percaya saya?"

"Kedua, tadi saya katakan jangan berharap pada sesuatu yang kamu tidak dapat meraihnya. Karena ranting tempatku hinggap tadi tinggi dan Kakek tahu kalau kakek tidak sanggup meraihnya, tapi kakek malah melanggar, akhirnya Kakek malah jatuh dan pingsan."

"Ketiga," lanjut si burung, "Jangan sesali masa lalu. Mengapa Kakek menyesal? Bukankah apa yang kakek kerjakan, yakni melepaskan saya tadi, sudah terjadi?"

Sambil terbang mengangkasa, burung pipit tadi mengaku sebagai jelmaan Malaikat utusan Allah swt, yang diturunkan untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia.

Sahabat, mari kita renungkan 3 (tiga) pesan sederhana dari burung pipit tadi :
1) Pertama, Jangan percaya siapa pun kecuali pada Allah,
Barangkali di waktu lalu kita masih percaya pada mahluk, percaya pada manusia, pada atasan kita, apalagi pada dukun dan ramalan, mari ke depan kita luruskan kembali tauhid kita, yaitu percaya hanya pada Allah semata. Jangan pernah percaya 100% pada mahluk, siapapun, meski dia suami/istri kita dan anak kita, atasan kita dll. Karena sepanjang dia mahluk, dia punya sifat2 sebagai mahluk yang bisa lupa dan bisa bohong serta bisa berkhianat kepada kita.

2) Kedua, jangan berharap sesuatu yang kamu tidak akan sanggup untuk mendapatkannya.
Jangan berharap sesuatu secara berlebihan yang mustahil kita bisa mencapainya. Cita-cita dan harapan memang boleh kita gantungkan setinggi langit. Hanya saja jangan berlebihan. Ibarat kodok berharap bisa terbang. Yang wajar-wajar saja harapan kita, agar kalau tidak tercapai tidak sakit dan menyesal kita nantinya. Kalau seandainya gaji kita Rp. 1 juta/bulan, jangan berharap kita memiliki Lexus terbaru yang harganya Rp. 2 Milyar. Karena kalau terlampau berharap dan berkhayal, setan dan Iblis akan mudah masuk dalam pikiran kita, yang membuat kita hilang akal sehat, dan ujung-ujungnya bisa bertindak kriminal, melakukan korupsi, manipulasi, mencuri dll hanya untuk bisa membeli Lexus seri terbaru.

3) Ketiga, jangan pernah menyesali masa lalu kita".
Menyesal selalu timbul kemudian. Kata-kata itu memang benar, jika penyesalan tidak hadir kemudian, ada yang patut dipertanyakan. Namun, menyesali dan meratapi masa lalu tidaklah bagus jika berlebihan, karena segala sesuatu jika berlebihan akan menimbulkan hal yang negatif.

Seseorang diharuskan melihat masa lalu untuk mengambil pelajaran darinya, bukan meratapi dan berandai-andai dengan mengatakan “Coba kalo dulu ngga ngelakuin itu, pasti…” atau “Coba dulu ngelakuin ini, kayanya ga bakal kaya sekarang” dst. Kata-kata serupa dengan itu akan membuat si pelaku merasakan penyesalan-penyesalan yang sebenernya ga guna.

Lihatlah ke belakang, dan perbaiki masa kini dan masa lalu. Jika kita ibaratkan seorang pengendara, lihatlah belakang anda dengan melihat spion, tapi itu untuk seperlunya aja setelah itu jangan terlena tapi perhatikanlah ke depan, masa yang tengah dan akan kita hadapi.

Mari sama2 kita perik pelajaran dari kisah Kakek tua dalam cerita pendek di atas, Semoga, di tahun baru 1431 H ini, kita bukanlah seperti kakek tua tadi yang masih percaya pada mahluk, mengharap sesuatu yang berlebihan yang tidak mungkin dan menyesali secara berlebihan akan masa lalu kita. Amiin

/lym 16/12/2009

Sumber : Note IPH From Facebook