Friday, November 20, 2009

Parodi : Mohon Izin

Mohon Izin. Demikianlah yang dikatakan seorang sopir kepada teman saya ketika hendak menjawab telepon genggamnya yang berbunyi saat sedang menyetir mobil.
Permohonan itu dilakukan karena teman saya yang duduk di kursi belakang itu masuk ke dalam kategori big boss, dan di kota ”kecil” bos itu mahapenting. Yaa… sebelas duabelaslah sama penguasa dunia. Teman saya itu hendak menghadiri acara pembukaan sebuah outlet barunya.

Mohon izin adalah sesuatu yang sering dilakukan, apalagi kalau bicara dengan atasan. Ucapan mohon izin merupakan bentuk ungkapan yang didasari banyak alasan. Dari yang benar-benar sopan santun, seperti cerita sopir di atas, sampai yang mau mencari muka. Contoh yang terakhir ini memiliki manfaat ganda.

Bawahan ”Part” I
Pertama, bawahan yang melakukan terlihat santun, mirip si sopir tadi, karena menghormati atasan. Akibatnya bisa jadi positif karena bos merasa senang dianggap atasan, dianggap penting, dianggap mengerti semua hal. Apalagi, kalau atasannya memiliki kesenangan dijilat-jilat.
Tak semua bawahan merasa atasannya itu atasan dan menganggap penting dan menganggap ia mengerti semuanya. Bahkan, ada atasan yang selalu saja tidak sinkron jalan pemikirannya dengan visi dan misi perusahaan yang mengakibatkan sistem kerja, termasuk manusia di dalamnya, carut-marut. Itu salah satu sebab bawahan tak menganggap dia atasan dan manusia mahapenting.
Kedua, kalau bawahan sudah disukai atasan, semuanya beres. Bahkan, saat bos ada atau tidak ada, keputusan bisa mengalami jalan pintas. Maksud saya dengan jalan pintas, proposal dari luar sudah dijegal sebelum diletakkan sekretaris di meja big boss. Kalaupun tidak dijegal langsung, bisa jadi setelah proposal masuk ke atasan dan didiskusikan, dijegal justru setelah pertemuan itu. Tentu, dengan cara anggun.
Misalnya, bawahan berkicau, ”Oke Pak... saya pikir keputusan Bapak Bos luar biasa. Ide brilian. Tetapi, seandainya, hanya seandainya saja lho Pak, pergelaran orkestra kita dan lagu-lagunya agak lebih dipopkan, mungkin lebih enak didengar.” Itu belum selesai. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat penutup yang santun dan mengecoh. ”Bagaimana menurut Bapak? Mohon petunjuknya.”
Jadi, bawahan macam itu sudah seperti dirigen yang mengorkestrasikan agar sebuah tampilan apik kelihatannya. Sejujurnya, ia tak membutuhkan petunjuk. Ia pura-pura saja setuju supaya kelihatan tetap sopan seperti malaikat dengan memberikan bolanya kembali kepada si bos dengan kalimat mohon petunjuknya itu.
Padahal, jelas-jelas ia mau mengepopkan orkestra pilihan si bos yang kelewat konservatif. Jadi, si bos cuma jadi wayang, bawahannya yang jadi pengendali wayang, dan kalau bisa jadi sinden sekalian.

Bawahan ”Part” II
Bawahan yang bermain seperti dirigen tak boleh emosi, harus bisa menjaga meski kesal sekalipun, agar tujuan dapat selesai dan kemenangan di tangan. Vini, vidi, vici bukan cuma orasi Napoleon semata. Bawahan yang mampu mengontrol atasan seperti seorang istri yang bisa mengontrol suami sehingga suami jadi takut benar-benar Napoleon. Seorang penguasa.
Bawahan macam ini, atasan akan dibuat santai dan tenang di singgasana. Ia bahkan tidak bercita-cita menggantikan takhta sang big boss, ia sudah jadi big boss tanpa singgasana. Singgasana tak penting, mengontrol yang duduk jauh lebih penting.
Kemudian saya teringat cerita teman saya yang tinggal di Bangkok saat saya menanyakan soal hormat-menghormati. Ia bercerita saat menyaksikan film di bioskop, sebelum film dimulai, penonton harus berdiri untuk menghormati raja. Setiap harinya, pada pukul delapan pagi dan pukul enam sore lagu kebangsaan diperdengarkan di area publik, seperti stasiun dan pasar. Semua pejalan kaki harus berdiam diri sampai lagu kebangsaan selesai.

Saya tak tahu apakah mereka yang berdiri benar-benar menghormati. Itu urusan mereka. Yang jelas, saya mendapat pelajaran besar sebagai bawahan (baca: warga negara) saya ini patut menghormati sepenuh hati para pemimpin dan negara. Mungkin kalau mencontoh dalam penghormatan macam itu tidak ada salahnya. Jadi, sebelum menyaksikan adegan pembunuhan atau pocong beranak di gedung bioskop, penghormatan terhadap negara harus tetap dilakukan. Berdiri dan melantunkan lagu kebangsaan. Kalau kemudian nurani Anda berkeluh kesah, ”Huh? Berdiri?” Itu bukan urusan saya.

Sebagai bawahan (baca: anak), penghormatan terhadap orangtua juga dilakukan. Saya dahulu merasa melawan orangtua wajib dilakukan, apalagi kalau tak sependapat. Mungkin perdebatan itu sah-sah saja terjadi. Namanya anak, namanya orangtua. Rambut boleh sama hitam, belum tentu rambut dicat dengan warna sama. Tetapi, perdebatan tidak mengusung sebuah tujuan untuk tidak menghormati orangtua.
Saya juga baru tahu, penghormatan sebagai bawahan (masih tetap dibaca anak) kepada orangtua menghasilkan hidup seorang anak menjadi sejahtera dan berlimpah. Tidak hanya uang, tetapi juga batin yang bahagia. Sudah saya alami dalam lima tahun terakhir hidup saya bahwa kebahagiaan dan hidup sejahtera itu terjadi saat saya memutuskan untuk menghormati.

Jadi, kalau sekarang saya ditanya mengapa bisa bahagia, yaa... salah satunya menjadi bawahan yang menghormati. Mengapa bisa makmur, yaa... karena penghormatan itu, bukan sekadar dapat bunga dari deposito atau me-redeem Reksa Dana karena sudah untung, atau karena kenal sama bos A dan bos B.

Maka, kalau sekarang jadi bawahan mari kita menghormati atasan, negara, dan orangtua. Terus Anda mungkin berkicau seperti nurani saya. ”Huh? Menghormati? La wong bos gue aja kayak bajing. Loncat, loncat, loncat enggak bisa dipegang omongannya, ngapain juga menghormati. Hare gene? Menghormati bajing-bajing?
Mungkin ada lagi yang bicara. ”Wong bos womanizer kok dihormati.” Nah, kalau sudah begitu saya memilih berhenti saja menulis. Tanda saya sangat menghormati orang lain. Saya cuma menyarankan, mau tidak setuju ya... monggo.
Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

Kilas Parodi: Bawah-Atas
Katanya kalau dalam perusahaan citra atasan bagus, maka citra bawahan juga turut bagus. Sekarang saya mau coba-coba saja, bagaimana kalau atasan yang bagus itu justru cerminan dari bawahannya yang cihui. Kan katanya pembelajaran itu bisa datang dari mana saja. Mari mencoba langkah yang saya usulkan. Namanya juga baru coba-coba. Ketidakberhasilan tetap masih ada kemungkinan terjadi.
1. Sadarilah sejak awal Anda itu bawahan. Nah, kalau yang namanya bawahan yaaa… bawahan saja, enggak pakai acara punya perilaku seperti atasan. Kan sekarang lagi mencoba agar atasan belajar dari bawahan. Kalau bawahannya kayak atasan, apalah gunanya atasan belajar dari bawahannya, bukan? Karena kalau bawahan sok bossy, ya… atasannya nanti belajar jadi bossy.
2. Jadilah bawahan yang apa adanya. Kalau bisa, bilang bisa, kalau tidak bilang tidak bisa. Jangan pernah janji-janji surga. Nanti kalau tak terpenuhi Anda akan dianggap hanya pengumbar janji surga. Kalau atasan belajar dari bawahan macam itu, nanti atasannya jadi mengikuti perilaku Anda.
Oh… yaa... bisa jadi kalau sekarang Anda punya atasan yang hanya bisa mengumbar janji surga dan kalau ditanya mengatakan tak pernah mengatakan itu, bisa jadi big boss malah sudah belajar dari Anda sebagai bawahannya. Kan Anda pasti setuju dengan saya, inspirasi negatif atau positif bisa datang dari mana saja. Makanya, sebagai bawahan jangan macam-macam dalam memberi inspirasi.
3. Kalau jadi bawahan, jangan suka menjegal sesama kolega. Karena sebagai bawahan tak berarti Anda jadi bos karena ada orang yang masih punya posisi di bawah Anda. Kalaupun Anda berpredikat manajer, Anda itu bawahan manajer senior. Jadi, kalau Anda dikasihi seniornya, yaa... kasihanilah bawahan Anda. Jangan Anda dikasihi atasan, Anda menekan dan membuat hidup bawahan seperti neraka. Nanti atasan Anda akan belajar dari perilaku Anda itu dan menjadi manusia yang suka menekan dan menyengsarakan seluruh karyawan.
(Samuel Mulia)


/lym 20/11/2009
Sumber : http://megapolitan.kompas.com