Sunday, November 15, 2009

Hanya Soal Tempat Duduk


Saya dan tiga teman berkumpul di sebuah rumah makan. Hari menunjukkan pukul satu siang. Ketika semua orang bekerja, kami bersendau gurau. Dulu waktu masih bekerja, paling suka mengambil cuti di hari kerja. Pergi ke Bandung hanya untuk makan siang, saat teman-teman bekerja. Dan ketika ada telepon masuk menanyakan keberadaan saya, saya menjelaskan yang mengundang jawaban: ”Enak benuer sih….”

Maka, keadaan enak benuer sih itu masih terus berlangsung. Percakapan antara teman begitu mengasyikkan, sambil menikmati risoles dengan salmon dan teh hangat rasa chamomile. Kalau sudah ngobrol-ngobrol seperti ini, kadang emosi juga turut naik turun, maka teh yang katanya memiliki efek menenangkan itu patut diseruput sebelum emosi jebol. Dua jam pun begitu cepat berlalu. Beda rasanya kalau di ruang rapat, apalagi bersama klien yang gampang menabur janji surga dan gampang juga mengingkarinya.

Menjerit

Kami mengobrol soal macam-macam, salah satu di antaranya mengenai persoalan sepele: penentuan tempat duduk di sebuah acara. Kalau saya katakan sepele, itu buat saya karena memang terbiasa disepelekan orang. Sudah berjuang untuk tidak disepelekan, tetap saja ada yang menyepelekan. Itu risiko menjadi manusia biasa. Biasa disepelekan, maksudnya. Maka, mungkin banyak orang berusaha menjadi manusia luar biasa.

Pembicaraan makin mengasyikkan karena mendengar cerita soal pribadi-pribadi kondang dan yang tidak kondang, tetapi berusaha kondang, dan kok ya kebetulan kaya raya, yang menjerit-jerit di pesta karena masalah tempat duduk yang tidak berkenan di hati mereka. Tepatnya merasa tidak sesuai dengan status sosial mereka.

Alasan mereka berteriak macam-macam. Ada yang menjerit karena tergeser pesaingnya kemudian menjadikan panitia acara kambing hitam. Manusia yang merasa tergeser tak berani menghadapi yang menggeser.

Ada yang menjerit karena kok kaya dan kondang tak duduk bersama tuan rumah yang sama kaya dan sama kondangnya. Ada yang menjerit karena berusaha duduk dengan pejabat dan duta besar, tetapi harapan pupus karena status sosial belum mencukupi untuk berdekatan dengan petinggi.

Ada yang naik pitam karena merasa sama kayanya, sama kondangnya, sama status sosialnya, kok didudukkan dalam satu meja. Mereka tidak bermusuhan, tetapi tak saling menyukai. Keduanya berteriak, ”Saya enggak mau duduk sama manusia itu.”

Cerita-cerita semacam itu membuat saya jadi turut emosi. Terutama mendengar yang menjerit itu katanya manusia berpendidikan tinggi, yang acap berkoar-koar agar rendah hati di hadapan Tuhan, tetapi tetap mau jadi orang nomor satu. Padahal, saya diajari kalau mau ikut Tuhan mesti punya perilaku seperti jongos.

Beberapa hari setelah pertemuan itu saya bercerita kepada teman lain mengenai acara makan siang itu. Wanita ayu ini menasihati saya secara tidak langsung. Manusia menjerit hanya untuk dapat tempat duduk bersama petinggi supaya dihormati dan merasa terhormat. Padahal, mumpung belum game over, seyogianya kita mempersiapkan dapat tempat duduk di surga. ”Ya, enggak?” Saya diam saja, tak tahu mesti menjawab apa.

”Rest in peace”

Setelah mendengar cerita, saya katakan kepada teman-teman, keadaan macam itu pernah saya alami. Banyak alasan mengapa mereka melakukan itu, selain mereka memang memiliki tabiat jauh dari menyenangkan. Mengapa mereka sampai tak malu menjerit di tengah keramaian pesta hanya untuk tempat duduk yang memberi rasa gengsi itu.

Penempatan duduk yang dulu saya anggap sepele menjadi tidak sepele lagi setelah saya mengalami akibat duduk bersama pribadi kondang atau petinggi. Waduh, rasanya seperti naik ayunan. Dilambungkan setinggi-tingginya, saya diasosiasikan dengan mereka. Apalagi kalau diabadikan dan kemudian diterbitkan di dalam majalah.

Apalagi saya datang dari kelas menengah, mendapat kesempatan macam itu seperti mendapat durian runtuh. Sejujurnya, dua dari tiga teman saya siang itu adalah manusia superkondang di negeri ini. Anda pasti tahu kalau saya sebutkan namanya.

Waktu saya masuk ke dalam rumah makan itu dan menuju ke tempat duduk yang sudah terisi dengan satu teman saya yang kondang itu, ”sejuta” mata melirik. Mungkin mereka berpikir, kok bisa manusia kepret itu makan siang bersama manusia kondang. Pelayan di rumah makan itu juga jadi turut ramah.

Dengan hanya mendapat kesempatan duduk, kenikmatan itu tak berarti selesai. Duduk bersama petinggi atau manusia kondang tak hanya meluaskan cakrawala, tetapi juga memiliki kesempatan meluaskan pergaulan dan jejaring. Misalnya, awalnya saya tak kenal si A, atau susah berkenalan dengan si A. Karena saya ”bergandengan tangan” dengan manusia kondang, maka saya bisa mengenal si A meski si A juga tak akan berbaik hati kepada saya.

Agar si A berbaik hati, itu pekerjaan rumah saya. Yang penting jalan sudah terbuka. Itu hanya segelintir alasan mengapa saya juga dulu pernah merasa harus menjerit hanya untuk sebuah tempat duduk.

Maka, seperti saya katakan di atas, kalau mau mendengar cerita macam itu sebaiknya menyeruput teh rasa chamomile supaya tak turut emosi. Saya membayangkan terkena serangan jantung terus game over hanya gara-gara mendengar cerita yang memang mampu memacu adrenalin.

Tetapi, nurani saya siang itu sudah terlebih dahulu menjerit. ”Kecian benuer… mati gara-gara dengerin cerita orang cari tempat duduk.”

Suara itu tak berhenti berbunyi. ”Emang pas sambil minum teh rasa chamomile. Matinya tenang. Benar-benar rest in peace.”


/lym 15/11/2009
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/
Penulis :
Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.