Monday, November 16, 2009

Engkau anakku, apa pun keadaanmu!”


“Perempuan” itu berjuang keluar dari tubuh laki-laki. Sepanjang hidup menghadapi diskriminasi. Akhirnya dia menemukan keluarga.

Semua bermula ketika ia menginjak usia remaja. Masa pubertas mulai menyadarkan dirinya memang berbeda dari teman-teman sepermainan. Bibit cinta terhadap kaum Adam perlahan tumbuh di hatinya.

Ienes, begitu ia dipanggil, merasa tertarik pada sesama pria saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Karena masih belia, Ienes mengenangnya bukan sebagai cinta, melainkan “Gejolak rasa nyaman yang bergetar jika berada dekat dengan sang pria pujaan.”

Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, rasa itu kian mengental. Dorongan untuk berpenampilan layaknya perempuan pun makin kuat. Ketertarikan pada sesama pria semakin semakin kuat terasa. Ia mulai ingin memanjangkan mahkota kepalanya, tapi sekolahnya melarang siswa berambut gondrong. Jika ada siswa gondrong, hukumannya tidak ringan. Ienes pun mengakalinya: dipanjangkannya rambut bagian depan, sementara bagian belakang dipangkas pendek. “Daripada dipotong asal-asalan sama guru, gue siasatin aja,” tutur Ienes.

Sampai duduk di kelas II SMA, “pria” yang enggan menyebut nama aslinya itu masih mampu menyembunyikan orientasi seksualnya di hadapan keluarga. Namun, pada suatu ketika, gelagat itu tercium juga. Ayahnya marah besar. Terlebih kakak pertamanya yang laki-laki. “Bokap waktu itu keras banget,” kata Ienes. “Kakak gue bahkan sempat mukulin gue.”

Ketika semua anggota keluarga tak menerima perubahan pada diri Ienes, ibunya memberikan sedikit pengertian. Apalagi kemudian Ienes juga sanggup membuktikan dengan kondisinya sekarang malah mampu mencari penghasilan sendiri.

Di usia semuda itu Ienes sudah bisa mencari uang sendiri sebagai perias pengantin. Bahkan, ia bisa menabung dan membeli perlengkapan tata rias lengkap salah satu merek kosmetik terkenal. Meski rasa bangga memenuhi dadanya, kuatnya tekanan keluarga membuat Ienes terdorong untuk pergi dari rumah.

Kesempatan untuk lari dari rumah datang juga pada tahun 1989. Saat itu Ienes baru saja menyelesaikan pendidikan SMA. Ia mendapat tawaran tinggal bersama bibinya di Serpong, Tangerang, Banten. Ienes pun meninggalkan Cirebon, tempat kelahirannya. Saat itu pula dia memutus hubungan dengan keluarganya.

Di Serpong, Ienes meneruskan usaha salon milik bibinya yang sudah lama terbengkelai. Tapi ia hanya bertahan tiga tahun. Godaan mewujudkan mimpinya untuk hidup mandiri kembali mengusik ketenangan batinnya.

Pada 1992 Ienes mulai bekerja di salon milik orang lain. “Tempatnya persis di belakang Citra Land. Gue inget banget, Citra Land belum lama buka,” kata Ienes mengenang pengalaman pertamanya memulai hidup mandiri.

Di tempat ini Ienes berusaha mengubah bentuk tubuhnya agar persis perempuan. Ia mengonsumsi berbagai obat pemacu hormon kewanitaan, salah satunya pil untuk kontrasepsi. Obat itu membuatnya mual luar biasa. Akhirnya, dia menemukan satu obat yang cocok.

Upaya keras itu berhasil. Tubuh Ienes tampak seperti badan perempuan. Rambut hitam dipotong pendek dan dikuncir serta berjalan sambil lenggak-lenggok membuatnya tampak seperti perempuan tulen. Kulitnya juga tampak halus dibandingkan kulit laki-laki. Tapi Ienes tak ingin operasi plastik untuk mengubah alat kelaminnya. “Gue pengen orang suka sama gue karena kemampuan gue. Bukan bentuk fisik,” katanya santai sambil mengisap rokok.

Setahun berselang bekerja di salon itu, Ienes mulai memperluas pergaulannya. Dia mulai mengenal banyak waria lain dari berbagai komunitas. Kehidupan malam pelan-pelan mulai diakrabinya. Lebih pada kebutuhan untuk mengekspresikan diri, Ienes pun turut mangkal bersama teman-temannya di Taman Lawang, Menteng, Jakarta Pusat. Dia menyebut tempat itu sebagai kawasan “G-Spot”, tempat para waria berkumpul dan berinteraksi. “Nggak semua waria yang ada di Taman Lawang tujuannya melulu uang,” katanya. “Banyak juga yang yang cuma pengen mengekspresikan diri.”

Di tempat itu Ienes pertama kali menemukan tambatan hati. Seorang duda gagah beranak dua menawan hati Ienes. Ienes pun mabuk kepayang. Baginya, si duda itu figur ayah yang selama ini tak dimilikinya. Ayah Ienes seorang pelaut yang jarang berada di rumah. Kini ia menemukan figur ayah sebenarnya dari pria asal Padang, Sumatera Barat, itu.

Tapi, jalinan asmara dengan duda itu tak berlangsung lama. Si duda pergi meningalkan Ienes. Setelah itu Ienes mulai berganti-ganti pacar. Tapi hampir semuanya tidak berlangsung lama. Hingga akhirnya dia kembali menemukan sosok idaman yang begitu sempurna. “Dewasa, tinggi, putih, atletis, pokoknya ideal gue banget, deh,” kata Ienes dengan mata berbinar-binar.

Ienes berharap banyak pada lelaki idamannya ini. Apalagi lelaki itu datang sebagai pahlawan ketika Ienes sedang jatuh dan hatinya terluka akibat gagal bercinta dengan pria sebelumnya. Ienes sempat mengonsumsi obat-obat terlarang. Dan lelaki ini datang menyelamatkan. Selama hampir satu tahun berhubungan, ternyata kisah cinta Ienes harus berakhir lagi. Ia kembali ditinggalkan, dengan luka yang teramat dalam. Akibat kejadian itu Ienes sempat menutup diri dari pergaulan.

Pada saat yang hampir bersamaan, ibu Ienes pergi untuk selamanya. Ienes mengaku menyesal karena belum sempat membahagiakan sang ibu, justru ketika kini secara ekonomi dia sudah cukup mampu melakukan itu. “Gue pengen nyokap tinggal sama gue, meski cuma di rumah petak tempat sekarang gue tinggal,” kata Ienes dengan mata berkaca-kaca.

Kegiatannya berorganisasi bersama waria lain membangkitkan semangat hidupnya. Ienes bergabung dengan Organisasi Waria Srikandi Sejati. Di komunitas ini dia menemukan pengganti keluarganya. “Inilah keluargaku. Waria-waria inilah keluargaku,” katanya mantap.

Nasib baik belum pergi dari kehidupan Ienes. Datang kabar menggembirakan: ayah Ienes mencarinya di Jakarta. Pertemuan keluarga di tahun 2005 itu sangat mengharukan. Meski ayah Ienes tidak banyak berkata, matanya bicara, “Engkau anakku, apa pun keadaanmu!”

Dengan sabar Ienes menceritakan kondisinya sekarang. Dia berusaha menjelaskan kepada ayahnya bahwa kini dirinya tak lagi menggunakan nama yang pernah diberikan ayahnya dulu. Ienes pun bahagia, keluarganya mau menerimanya kembali.


/lym 15/11/2009

Sumber :
http://www.vhrmedia.com