Tuesday, November 17, 2009

Catatan Kita


"Assalamu'alaikum" - Sebuah salam kukirim sebagai pembuka dialog "sapaku" pada kotak kecil dunia maya. "Wa'alaikumsalam " - Dan kau pun menjawabnya dengan sederhana sesederhana sapaanku. Itulah dialog awal pertemanan kita, sebuah interaksi miniatur yang kita buat sangat sederhana.

Tapi dari sanalah justru aku mulai mengucap barisan-barisan do'a agar Allah tak mempersingkat pertemuan ini dan menjauhkan aku darimu dan dari keadaan yang sudah membuatku menjadi seorang yang baru - Seorang yang aku sendiri tak pernah memahami apa, siapa, bagaimana, dan kenapa .

Kita melanjutkan dialog-dialog mini itu dengan dialog yang lebih bebas, lebih luas. Aku, Kamu saling menyapa disetiap pagi, senja, dan petang. Aku menamainya – dialog maya, sebuah dialog yang terjadi pada “kotak-kotak” kecil - antara aku dan kau, karena kita tak pernah menjalaninya di ruang-ruang nyata.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dialog-dialog maya itu tak pernah berhenti. Menjadi semacam stimulan yang mengubahku dari sedih menjadi senang, dari lemah menjadi kuat, dari lambat menjadi cepat ! – hanya sebuah dialog maya.

Sampai pada suatu senja kau menghentakkan seluruh pikirku. Mengawali pertemuan itu, tak ada sepatah kata pun sanggup ku ucapkan, hanya gerak tak jelas.

"Dari mana kok gak cerita mau kesini?” Setelah dalam hitungan menit aku membisu, kata itu yang sanggup ku ungkap. “Alhamduillah dari..... dst” Jawabmu singkat.

Setelah itu, nyaris tak ada lagi percakapan – hanya diam, kaku – hingga aku berkeinginan secepatnya menamatkan episode perjumpaan ini karena "mati gaya".

Sebuah perjumpaan yang membuatku tak mampu menjelaskan dan menterjemahkan rasa. Padahal, kita sanggup tersenyum dan tertawa lepas saat dialog-dialog maya itu terjadi.

Kini...., “kotak-kotak” kecil sebagai perantara kita itu telah menjadi ruang-ruang nyata, bukan lagi dialog maya pada sebuah “kotak-kotak” kecil.

/lym 16/11/2009