Tuesday, October 27, 2009

Parodi : Tertib, "Please" !

Saya jengkel. Hari Minggu siang saya berenang di apartemen tempat tinggal saya. Namanya juga ruang publik, saya tak bisa melarang orang berenang seperti yang saya kehendaki. Saya menyadari itu.

Harus saya akui, saya yang salah karena terlambat bangun. Biasanya, saya tak pernah melakukan olahraga air itu pada akhir pekan, tetapi pada hari-hari kerja dan pada pukul delapan pagi. Kolam sepi dan tak ada manusia yang memenuhi kolam yang ukurannya sedang-sedang itu.

Saya memiliki jadwal hidup yang aneh. Orang kerja saya tidur dan berenang, orang berenang saya kerja dan tidur. Hari Minggu itu saya memutuskan berolahraga air karena sudah lama sekali tak melakukan kegiatan mulia yang menyehatkan itu.

Biasa, selain pekerjaan yang bertambah dan jeritan klien yang membuat saya juga keriting, yang juga memiliki andil besar adalah datangnya rasa malas yang berlangsung begitu lamanya. Sehingga badan yang biasanya bergerak, tiga bulan berhenti karena rasa malas itu.

Di kolam renang

Nah, puncaknya adalah akhir pekan itu. Badan terasa sakit semua dan sudah menagih untuk digerakkan. Maka, tanpa berpikir panjang saya memutuskan terjun ke dalam air. Kolam renang itu tak dipenuhi orang. Hanya ada lima manusia yang memutuskan berolahraga. Mungkin jadwal hidup mereka sama seperti jadwal hidup saya dan bisa jadi badan mereka juga sudah minta-minta untuk digerakkan. Badan saya sudah digerakkan di tempat lain, kok yaaa… kurang saja dan masih menagih.

Masalahnya bukan soal ada lima atau enam orang di dalam kolam itu. Yang membuat saya jengkel adalah karena mereka berenang sak enak udele dewek, seperti merasa kolam renang itu milik keluarganya. Saya berenang dengan tujuan untuk olahraga, sehingga jalur renang saya yaaa… lurus saja bolak-balik dan memilih gaya dada sebagai gaya renang andalan.

Mereka mungkin punya tujuan sama, tetapi memutuskan untuk tidak lurus bolak-balik melainkan menyilang. Jadi, saya dan mereka itu seperti simbol tanda tambah, dan mereka memilih gaya bebas sebagai gaya andalan.

Saya pakai gaya dada, di depan saya pakai gaya bebas. Anda bayangkan berenang dengan gaya bebas, kaki mereka menepuk-nepuk air kolam, saya yang di belakangnya terombang-ambing gelagapan menghindari air masuk ke dalam mulut.

Tak lama kemudian ada yang terjun dari darat ke dalam kolam menyilang di belakang saya. Pokoknya kalau Anda pernah ngudek teh hangat di sore hari, yaaa… kira-kira seperti itulah keadaan kolam pada hari Minggu nan cerah dan panas seperti kompor itu.

Saya memutuskan berhenti karena tak bisa berolahraga dengan benar. Saya cuma mikir, yang waras yang ngalah. Dalam perjalanan dari kolam renang sampai ke pintu apartemen saya mulai berpikir, apakah benar manusia sekarang semakin tak punya nurani, tak peduli, egois? Yang penting aku, aku, dan aku. Apakah nilai-nilai toleransi itu juga mulai menipis? Apakah mereka tak bisa lagi melihat bedanya kolam renang pribadi dan milik umum, antara melakukan kegiatan di ranah publik dan di ranah pribadi?

Apakah mereka juga tahu, tetapi pura-pura tak tahu. Apakah mungkin mereka memiliki filosofi hidup macam begini. Kalau bisa nyusahin orang, mengapa harus membahagiakan? Mungkin sama seperti teman saya yang punya filosofi dalam menata rumah. Kalau bisa maksimalis dan ribet, kenapa mesti minimalis dan enggak ribet?

Di tengah kemacetan

Kemudian saya ingat dua hari sebelum hari naas di kolam renang itu, bersama teman saya terjebak macet. Saya ingat itu hari Jumat sore sepulang kerja, saat gempa terjadi. Jalan sudah macet padat merayap saja susah. Kami memutuskan untuk mencari jalan tikus meski jalan tikusnya saja sudah penuh sesak. Semua mobil mengantre dengan tertib karena jalannya sempit. Namanya juga jalan tikus, bukan?

Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam menyelak langsung di depan sehingga posisinya membuat jalan sempit itu makin runyam, karena meski sempit jalan tikus itu merupakan jalan dua arah.

Gara-gara ia menyelak, semuanya jadi berantakan. Mau maju tak bisa, mundur pun tak bisa. Saya jengkel sekali. Secara emosional saya langsung memencet klakson mobil teman saya itu untuk mewakili suara saya yang ingin sekali menjerit dan mengomeli si pengendara mobil itu. Padahal, sedan hitam itu bukan menyelak saya, tetapi dua mobil di depan saya.

Mobil yang diselak itu yaa… diam saja, merasa tak apa-apa. Saya sampai kagum sekaligus jengkel, kok diselak diam saja. Saya ingin sekali saat itu mendatangi pengendara mobil itu dan bertanya, mengapa ia melakukan itu? Bukan soal menyelaknya, tetapi ulah cuma satu orang, tetapi membuat semua orang jadi repot.

Karena jalan menjadi mampet dan saya tak bisa melakukan kegiatan lain karena tak bawa laptop dan tak punya BB, yaa… saya duduk diam jengkel dan merenung. Mengapa manusia itu bisa begitu egoisnya? Apakah menjadi tertib begitu susahnya?

Kalau susah, mengapa kalau sedang berada di negara tetangga macam Singapura, manusia yang tak bisa tertib di Jakarta itu bisa tertib tiba-tiba, meski hanya untuk sekian hari atau selama akhir pekan? Semua kan juga mau pulang, semua orang kan juga enggak mau berlama-lama di jalan, mengapa susah sekali untuk tidak membuat orang lain susah? Kan jalan rayanya milik umum. Kalau milik umum, yaaa... enggak bisa seenaknya sendiri, bukan?

Mengapa susah sekali berpikir menyenangkan orang lain. Nah, kalau sudah begini, nurani saya mulai turut berkicau dan dengan mudah ia melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya. Saya tak menjawab. Nurani saya berteriak, ”Lo tahu enggak, Jeng, situasi yang sekarang lo hadapin itu upah dari apa yang lo tabur. Kalau dulu lo pernah begitu egoisnya dan orang lain sengsara karenanya dan lo enggak inget atau pura-pura enggak inget, nah… sekarang lo rasa.”

Saya kaget setengah mati. Ya, ya, ya… benar adanya. Saya marah karena orang begitu egoisnya, begitu tak sabarnya. Saya lupa saya juga pernah melakukan itu. Sekarang kalau saya terjerat dalam situasi menjengkelkan semacam dua kejadian di atas, saya sedang diberi pelajaran ada harga yang selalu harus dibayar dari sebuah perbuatan. Mau itu masa lampau, maupun masa sekarang. Bentuk pembayarannya bermacam cara sesuai apa yang pernah saya tabur. Di kolam renang dan atau di jalan raya.

Nurani saya masih belum puas dan tampaknya tak pernah puas. ”Kalau lo selalu omong mau jadi orang sabar, jadi orang pemaaf, yaaah…. monggo, situasi ini dinikmati saja. Menjadi mulia itu perlu dibentuk dari hal-hal sulit, bukan yang mudah saja. Makanya Neng, kalau omong atau minta sesuatu itu dipikir dulu masak-masak. Jangan asal nyeplos….”



KILAS PARODI

Makdarit (Maka Dari Itu)...

1. Sadari Anda dan saya hidup di dunia bukan untuk menyenangkan hati Anda, tetapi menyenangkan Sang Khalik. Jadi, obyektif menciptakan manusia di bumi ini adalah untuk Sang Pencipta, bukan untuk udel Anda dan saya. Sama sekali tidak. Saya kok percaya, wujud Sang Khalik itu yaaa… ada dalam wujud bernama sesama manusia. Jadi, kalau Anda dan saya kurang ajar dengan sesama, Anda sedang kurang ajar sama Sang Pencipta. Kok berani?

2. Saya mulai berpikir mengapa yaaaa… jam kebaktian di rumah ibadah saya ada macam-macam. Ada jadwal jam enam pagi, delapan, sepuluh, lima sore, dan tujuh malam. Saya bertanya kepada diri sendiri, jadwal itu dibuat karena banyak yang mencintai Sang Khalik atau dibuat berdasarkan kesibukan manusianya? Supaya saya bisa arisan dulu pada pagi hari, baru sore hari menghadap Sang Khalik.

Jadi, jadwal dibuat untuk menyesuaikan kebutuhan supaya saya bisa senang, bukan dibuat supaya Sang Khalik yang senang. Saya mikir, bagaimana kalau jadwal hanya dibuat sekali saja. Jam empat pagi. Nanti kan kelihatan siapa yang mencintai dirinya sendiri dan yang benar mencintai Sang Khalik.

3. Saudara-saudariku yang tercinta, kalau mengerjakan sesuatu, mau menyetir mobil kek, mau mengantre, bekerja sebagai tukang pos, menyetir kopaja, bajaj, sepeda motor, masuk ke dalam atau keluar dari lift, memarkir mobil, cobalah berpikir aktivitas itu Anda lakukan untuk Tuhan. Jadi, kalau cara pandangnya demikian, tak ada pengendara sepeda motor yang sudah nyelak eh….. pasang muka kejam pula, menggertak terlebih dahulu.

Kalau Anda menggertak sesama, ingat sesama itu adalah ciptaan Tuhan. Kok berani menggertak hasil ciptaan Sang Pencipta? Apalagi menggertak dalam keadaan bersalah. Anda bukan pemenang, Anda justru pecundang. Anda tahu pecundang itu apa? Seseorang yang tak berani mengakui dirinya salah.

4. Latih. Sekali lagi saya sarankan, latih diri Anda mencintai Sang Khalik. Kok saya ini percaya Anda dan saya bisa mencintai Sang Pencipta sedemikian rupa, butir satu sampai tiga, bisa Anda lakukan dengan ringan hati. Mencintai itu perlu latihan. Makanya orang kalau berhenti mencintai, kemungkinan besar karena juga berhenti berlatih untuk mencintai dan mungkin kelelahan dalam latihan itu. Setelah mengambil waktu istirahat dari latihan eh… lupa melanjutkan.


/lym 26/10/2009

Sumber :
Parodi : Samuel Mulia
http://megapolitan.kompas.com