Tuesday, October 20, 2009

Parodi : Nyelak


Malam minggu lalu saya menghadiri acara pernikahan seorang teman di sebuah hotel berbintang. Seperti biasa, menghadiri acara semacam ini menuntut banyak kesabaran, terutama soal mau mengalah menunggu dalam antrean, tanpa berniat menyelak alias nyeruduk sak enak udele dewek. Antreannya hanya dua. Untuk bersalaman dan untuk acara mengisi perut.

Selak 1

Nah, saya diselak di kedua antrean itu. Yang pertama, saat sedang berdiri dalam antrean menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Seorang wanita dan temannya berdiri di samping saya. Antrean itu mirip dua jalur jalan raya, dan semakin mendekati pelaminan dua jalur itu mengerucut dan berakhir dengan satu jalur.

Dua wanita yang berdiri di samping saya dengan busana terusan itu mulai mendekati tempat saya berdiri, kami bergerak sedikit demi sedikit. Tanpa saya sadari keduanya sudah ada di depan saya.... Jadi, mirip mobil mau menyelak dari kiri ke kanan tanpa ba, bi, bu.

Entah mengapa, setelah penyelakan terjadi antrean tak bergerak, cukup lama. MC mengusulkan, daripada menunggu lama dalam antrean para tamu dipersilakan mencicipi makanan yang tersedia. Ide yang dilemparkan si MC tampaknya diaminkan salah satu wanita penyelak tadi. Maka, ia keluar dari jalur yang macet total itu, sementara temannya tetap berdiri dalam jalur secara tertib.

Tak lama kemudian si wanita penyelak itu masuk lagi dalam antrean yang sudah mulai bergerak dan ia langsung berdiri di depan saya tanpa mengatakan apa pun. Saya jadi bingung, kok keluar-masuk jalur seperti di rumah sendiri.

Saya membayangkan wanita ini seperti Kopaja di jalan raya. Berhenti kapan saja, di mana saja. Mau diklakson juga pura-pura budek.

Selak 2

Setelah mengantre menyalami kedua mempelai, tiba giliran saya mengantre untuk mengisi perut. Sudah lama saya ini mendisiplinkan diri untuk tidak makan ini dan itu mengingat penyakit yang tak memungkinkan buat makan ini dan itu. Tetapi, malam itu saya berpikir, sekali ini saya mau melanggar aturan. Bukankah aturan itu dibuat umumnya untuk dilanggar dan keberadaan dokter di dunia ini adalah untuk menolong manusia macam saya?

Meminjam komentar seorang teman, hidup itu cuma sekali, jadi harus dinikmati. Saya memaksa diri setuju, padahal komentar itu keluar dari mulut yang ginjalnya walafiat, yang tak pernah mengenyam rasa hidup dan mati di ruang operasi, sementara ginjal saya sudah awut-awutan.

Yaa… saya tetap menyetujui pendapat itu. Namanya juga manusia dan ada istilah manusiawi yang diciptakan manusia untuk mengesahkan yang tidak sah itu. Sama seperti kalimat nobody is perfect yang diciptakan manusia untuk mengamini pembenaran dari kesalahan.

Padahal, manusia itu sendiri yang juga menciptakan kata perfeksionis, atau seorang desainer yang mengatakan kepada saya kalau ia bekerja semuanya harus sempurna. Jadi, saya semakin bingung bagaimana bisa membuat yang sempurna dari manusia yang tidak sempurna. Ono-ono wae.

Maka, saya melangkah ke meja dengan tulisan besar ”bebek panggang”. Makanan yang diharamkan untuk jenis golongan darah saya, tetapi nikmat buat lidah. Yaa… saya juga heran mengapa yang nikmat-nikmat itu umumnya selalu menyerempet yang haram-haram.

Tiba di area bebek panggang itu, antrean juga tak kalah panjangnya seperti tembok China. Yaa… namanya juga sudah kebelet dengan yang haram, saya mengantre dengan sabar dan perut keroncongan serta air liur mengalir makin deras.

Sekitar 10 menit mengantre, tiba-tiba seorang wanita berbaju merah berdiri di samping saya di luar jalur yang semestinya. Semua orang tertib mengantre, ia dengan tenang berdiri di samping dan bergerak maju bersama saya.

Kali ini, saya tak mau mengalah, jadi saya menghalanginya dengan memasang badan kerempeng ini. Ternyata berhasil. Saya puas, setelah diselak, giliran saya menyelak dan makan bebek panggang.

Sambil makan bebek, saya berpikir, mengapa orang mau menyelak? Mengapa susah mengantre? Mengapa kok enggak bisa berpikir kalau saya yang diselak, mau enggak? Senang enggak? Mengapa kok sengaja membuat orang lain marah dan menjadi kesal?

Dan mengapa dilakukan di sebuah acara yang harusnya membahagiakan, bukan membuat orang kesal. Tentu saya tak bisa menjawab. Lha wong… di tengah saya berpikir mulut dan gigi saya bergerak mengunyah daging bebek yang alot-alot enak itu.

Selak 3

Saya terbang ke Kota Buaya tiga hari setelah penyelakan di ruang mewah di hotel berbintang itu. Saya duduk bersebelahan dengan mas-mas, berewok, besar dan ndut. Saya membuka net book mungil untuk menyelesaikan tulisan ini. Setelah nyaris setengah jam, lengan saya mulai membutuhkan waktu istirahat dan otomatis saya menyenderkan lengan ke lengan kursi.

Sayangnya, lengan kursi itu sudah terlebih dahulu diisi lengan besar mas-mas tadi. Saya mau menumpukkan di atas lengannya tentu tak mungkin. ”Sandwhich, kale,” nurani saya ternyata bisa berteriak sesubuh itu dan di ketinggian tiga 36.000 kaki.

Ingin berbicara dengan dia untuk gantian menikmati senderan lengan itu, saya tak berani. Jadi yaa… ngalah sambil berpikir apa mungkin yaa... lengan kursi itu digilir saja. Sekian menit buat yang duduk di tengah, sekian menit untuk yang duduk di tepi lorong. Kan kita sama-sama bayar, sama-sama duduk di kelas ekonomi, ya... sama-sama punya hak menikmati.

Kejadian semacam itu sudah saya rasakan di ruang perkawinan lain, di lapangan terbang, di ATM, di mana saja, kapan saja. Pertanyaan terakhir muncul lagi. Mengapa tak ada yang membuat antrean panjang dan menyelak di rumah yatim piatu? Di rumah jompo?Di rumah ibadah pada hari-hari biasa, bukan hari istimewa?

Mengapa kok enggak ada yang menyelak waktu mengantre membayar pajak? Saya menanyai nurani saya. Eh… dia diam saja. Mungkin masih tertidur sesubuh itu. ”Wueee… bangun.” Tak ada suara juga.

KILAS PARODI

Biasakan…

1. Mendisiplinkan diri. Susah memang, tetapi apa boleh buat. Saya dan Anda semua tahu, berbuat yang baik dan benar itu susahnya setengah mati dan kadang mengesalkan. Tetapi, seperti susahnya menjalani hidup ini, Anda toh tetap harus bertahan hidup dan tak langsung gantung diri. Artinya, mau susahnya seperti apa, ada tujuan akhir yang Anda ingin capai. Itu membutuhkan kedisiplinan. Kedisiplinan dalam urusan mengantre juga untuk melatih agar Anda tak terlalu egois dan berakhir dengan membahagiakan orang lain.

2. Memiliki tenggang rasa, bukan tegang rasa. Tenggang itu berarti memiliki rasa toleran. Rasa ini tak boleh hanya berlaku saat Anda melihat orang kesusahan, tetapi juga saat mau membuat manusia lain berbahagia. Anda ingin anak dan pasangan bahagia, tak mungkin kalau Anda tak punya tenggang rasa.

Kalau Anda tak bisa memilikinya, anak dan pasangan Anda pasti minggat. Mungkin buat mereka yang sedang ditinggalkan seseorang, bisa berpikir salah satu sebabnya adalah tidak adanya tenggang rasa, tetapi malah memupuk tegang rasa.

3. Tidak berpikir pendek. Pendek itu lawannya panjang. Kalau berpikir pendek tak selalu jelek, tetapi umumnya pendek dalam berpikir lebih diasosiasikan dengan tidak berpikir panjang. ”Yaa… iyalah, pendek itu tidak panjang, goblok,” nurani saya berteriak seperti biasa. Nah, kalau berpikirnya pendek, Anda hanya bisa berpikir untuk diri sendiri dan tidak mendalam. Kalau panjang, Anda memikirkan orang lain juga dan berpikir akibat dari apa yang hendak Anda perbuat. Berpikir untuk orang lain dan akibatnya, itu adalah pikiran yang dalam.

4. Bertanya seperti ini—tentu kepada diri sendiri—”Enak enggak yaa… kalau diselak? Sakit hati enggak, ya?” Untuk memulai memahami orang lain, Anda harus memahami diri Anda sendiri. Sama persis kalau Anda menjual jasa, Anda tak bisa melayani dengan hati senang pelanggan atau pembeli kalau Anda sendiri tak senang dengan pekerjaan Anda, tak senang dengan lingkungan di mana Anda bekerja.

Makanya kalau Anda dijutekin sama penjual jasa, coba pikir mungkin salah satu sebabnya adalah karena ia tidak bahagia. Saya membaca artikel yang ditempelkan teman saya di dinding ruang kerjanya, bunyinya: Stop thinking like a bank, start thinking like a custome


/lym 20/10/2009

Sumber :
Parodi : Samuel Mulia
http://megapolitan.kompas.com