Tuesday, October 20, 2009

Parodi : Menyindir

Hari Selasa malam, saya menyaksikan tayangan Late Show with David Letterman. Sebuah tayangan lucu nan nyelekit. Nyaris semua pribadi kondang di dunia pernah tersindir dengan komentarnya. Dari Donald Trump sampai Osama bin Laden.

Belum lagi kalau ia sudah mulai membacakan informasi penuh tawa gelak dan sindiran itu, yang dituangkan dalam beberapa lembar kertas di sesi fun facts-nya. Hal yang juga menjadi ciri khasnya di sesi itu—meski buat saya jorok—adalah saat ia menggunakan air liurnya untuk membuka lembar demi lembar kertas berwarna biru muda itu.

”Enaaaak…. Gila”

Sindiran dipakai agar manusia yang disindir menjadi ngeh kalau disindir dengan tujuan akhirnya manusia itu kembali ke jalan yang benar. Supaya tidak terlalu kasar menyindirnya, dipakailah cara lebih manusiawi, salah satunya dengan guyonan.

Bahasa atau gerak yang mengundang tawa. Kalau manusia disindir, reaksinya hanya dua. Nrimo atau melawan. Kalau nrimo tak usah dibicarakan karena tak mengundang friksi. Nah, kalau marah, akan jadi perkara.

Pertanyaannya kemudian, mengapa marah? Ya... karena tersindir. Mengapa tersindir? Ya… karena hal yang disindirkan memang dilakukan dan celakanya ketahuan. Pertanyaan lagi, mengapa mesti marah kalau ketahuan? Bukankah itu tidak direkayasa seperti gosip karena ada buktinya? Marah kan kalau dituduh tanpa bukti atau tanpa diketahui. Jawabannya, karena manusianya sakit hati, tidak suka kalau ketahuan melakukan hal yang diinginkan dirinya sendiri, tetapi tak diinginkan orang lain.

Sebetulnya saya menulis parodi ini bukan untuk Anda, tetapi untuk saya sendiri. Saya sedang curhat dengan diri saya sendiri mengenai masalah sindiran.

Waktu saya disindir karena berselingkuh, saya jengah. Saya tak suka kesenangan saya diusik, padahal teman-teman saya sedang menasihati secara tak langsung agar saya cepat-cepat sadar.

Saya marah karena mereka membuat saya berpikir saya melakukan kekeliruan yang secara sadar saya tahu, tetapi saya tak bisa melawan karena enak. Saya paling tak suka diingatkan kesalahan yang saya sendiri sudah tahu. Itu menyebalkan.

Saya disindir karena perbuatan saya tak senonoh. Saya sebagai manusia dipersenjatai dengan otak yang bisa membuat yang tak senonoh menjadi beberapa nonoh. Saya ingat masa memasuki dunia remaja, membaca buku stensilan dan film biru kemudian menjadi kolektor. Dari sana otak saya berkembang ke segala arah.

Sekarang, apa yang saya tonton masa remaja terjadi di depan mata. Dari yang biasa sampai luar biasa. Kemudian saya tanya teman saya mengapa melakukan hal-hal itu, mereka menjawab ringan, ”Enak gila….”

”On and Off”

Enak gilalah yang membuat manusia membiarkan otaknya berpikir kemudian melatih membungkam nurani. Tak hanya soal seks, tetapi juga membunuh, meracuni tubuh, korupsi, cari muka, menjilat dalam segala cara dan bentuk. Apalagi enak gila itu dijadikan nasihat atau bentuk a helping hand bagi mereka yang butuh pertolongan melupakan sakit hati dan atau sakit segalanya dengan cepat, tanpa harus bertele-tele kelamaan.

Saya dengan otak saya bisa memanipulasi sedemikian rupa dan mengatakan hasil manipulasi bukan manipulasi, tetapi rasionalisasi. Kemudian setelah bisa masuk di rasio, tentu diterima dilanjutkan dengan kelihatan masuk akal, dan berakhir menjadi tak apa-apa alias kebiasaan.

Dan ketika sudah menjadi kebiasaan, kalau disindir, reaksinya hanya: pertama, marah; kedua, bisa jadi bebal karena sudah terbiasa, tak merasa lagi salahnya. Malah bisa menjadi bumerang dan mengatakan yang menyindirlah yang salah.

Manusia dengan akalnya suka curang. Kalau yang enak dirasionalkan dan diterima, yang enggak enak seperti membuktikan api itu panas tak mau membakar diri. Mereka bisa mengatakan, ”Gila apa. Goblok bener.”

Tetapi kalau korupsi, berselingkuh, menyogok dan menyodok, sudah tahu salah, bukan tempatnya tetapi dirasionalkan dengan kalimat macam ini. Manusia itu penuh kelemahan dan kecurangan, maka itu ndak apa-apa. Itu sangat manusiawi. Apalagi ada tambahan komentar, ”Enak, gila….”

Setelah saya menyaksikan tayangan penuh sindiran itu saya bertanya kepada diri sendiri. Saya ini mau menjadi manusia yang membiarkan otaknya berpikir tanpa nurani, atau dengan nurani, atau hanya kadang-kadang saja dengan nurani. Kalau saya sampai disindir, siapa pun itu, sejujurnya saya harus berterima kasih ketimbang naik pitam.

Mereka yang menyindir berada di luar kehidupan saya, pasti mereka lebih bisa melihat secara obyektif saya sudah membutuhkan pertolongan. Karena sindiran mereka itu adalah bukti nurani saya lagi off. Saya baru tahu on and off bukan cuma istilah mematikan dan menghidupkan lampu, ternyata bisa untuk nurani juga.

Masalahnya, saya mau memanfaatkan fasilitas on and off itu atau tidak. ”Yaaa... saya mau memanfaatkan. Memanfaatkan untuk meng-off-kan, maksudnya,” nurani saya langsung berteriak sebegitu kencangnya sampai saya malu sendiri karena saya menulis parodi ini seperti manusia yang sok suci, ternyata suara terdalam saya tak demikian adanya.

Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup



KILAS PARODI

Gini…

1. Kalau jadi manusia biasakan jangan punya hobi manipulasi. Hidup itu mending hitam atau putih. Di persimpangan itu membingungkan. Nah untuk bisa tidak berdiri di persimpangan butuh kekuatan mental, keberanian menghadap hasilnya, dan prinsip hidup tegar, serta pribadi sehat walafiat.

Manipulasi itu mungkin menyelamatkan untuk sesaat. Kalau saya bilang sesaat, itu bisa jadi 30 tahun bukan hanya 30 menit. Tetapi, ujung-ujungnya pasti saja ada harga yang harus Anda bayar karena ulah manipulasi itu.

2. Hidup hitam atau putih memudahkan Anda memasang strategi dan rencana kerja. Visi dan misi bisnis dan hidup Anda akan tercapai karena semua jelas yang akan dituju, ke mana arah tujuannya, dengan apa mencapai tujuannya, sudahkah sampai di tujuan, setelah di tujuan mau ngapain. Yah… mirip membangun sebuah brand. Data yang dihasilkan sebelum membuat brand vision harus lengkap dan jujur.

Katakan kepada calon pasangan hidup Anda mengidap penyakit serius yang membuat suka lupa pasangan Anda, tetapi tetap ingat milik orang lain. Artinya, perselingkuhan itu sudah menjadi gejala penyakit Anda. Ini contoh saja. Saya sendiri tak tahu apakah ada dari antara Anda terjangkit penyakit semacam itu. Kalau ternyata ada, saya minta maaf, ini cuma contoh, saya tak berniat menyindir. Kalau Anda tersindir, bisa jadi memang benar Anda terjangkit penyakit ini.

3. Anda dan saya diberi kesempatan hadir di dunia bukan karena alasan apa pun kecuali karena Sang Pencipta yang memberi kesempatan hadir. Jadi bertanggungjawablah kepada yang memberi kesempatan, bukan kepada yang memberi tas bermerek, kepada yang memberi Anda pernapasan dari mulut ke mulut saat Anda sedang membutuhkan, dan yang bisa membebaskan Anda dari palu hakim di pengadilan.

Kalau Anda tak percaya adanya Sang Khalik, saya tak tahu mesti omong apa. Saya cuma bisa omong, percaya saja. Nasihat ayah saya begini, ”Berbuatlah yang benar selama kamu hidup. Kalau saja Tuhan dan hari penghakiman itu ndak ada, apa ruginya. Sampean ndak rugi apa-apa. Tetapi, kalau sampe ada, sapa coba yang untung. Awakmu, no?” Itu nasihat ayah saya. Ayah saya kan bukan ayah Anda. Jadi, kalau ndak setuju, ya ra opo-opo alias ndak papa.

4. Jangan mudah tersinggung kalau disindir, apalagi kalau Anda melakukan apa yang disindirkan itu. Ubah cara pandang Anda. Sindiran itu pertolongan, bukan hinaan.


/lym 20/10/2009

Sumber :
Parodi : Samuel Mulia
http://megapolitan.kompas.com