Sunday, October 18, 2009

Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart.


Satu buku bagus telah terbit. Judulnya Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart.
Buku ini ditulis oleh Siti Aniroh, 31, seorang penyintas kanker yang tahun lalu menjalani kemoterapi dan mastektomi.
Meskipun judulnya berbahasa Inggris, tapi isinya ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bertutur yang santai dan mudah dicerna.
Dalam buku ini kita dapat mengikuti kisah Ani melawan kanker, mulai dari saat ia mencari dokter yang pas, saat kemoterapi dan saat pemulihan. Semuanya diungkapkan dengan jujur dan lugas. Menyentuh dan memberdayakan.
. Kita dapat merasakan betapa marah dan frustrasinya Ani saat ia menghadapi dokter yang memperlakukannya dengan kasar dan dingin tanpa rasa empati sedikitpun.
. “Saya bukan hanya merasakan sakit kepala, tapi perut saya juga mules, wajah saya terasa sangat panas karena menahan marah, dan ini yang teramat tidak masuk akal saya dengar dari mulut seorang dokter ahli kanker,” tutur Ani.
. Tujuh dokter telah dijumpainya, tapi Ani masih belum mendapatkan titik terang akan penyakit yang dideritanya. Ia baru memperoleh informasi yang jelas dan layanan medis yang tepat dari dokter ke delapan. Sayangnya, dokter ini praktiknya di Singapura.
. Pengalaman Ani merupakan cambuk bagi tenaga medis di Indonesia. Jelas bahwa Indonesia mempunyai banyak dokter yang baik, tapi di sisi lain masih perlu adanya peningkatan layanan, baik dari sisi personal maupun professional.
. Membaca buku ini, kita juga dapat merasakan keharuan ketika Ani berkisah tentang rambutnya yang gugur karena kemoterapi dalam bab berjudul “Botak tapi Keren”.
. “Banyak hal yang membuat saya menangis dan tertawa karenanya,” tulisnya.
Ia tersenyum saat anaknya yang berusia 6 tahun, Awan, berkata: “Wah… keren Bunda.”
. Tapi suatu saat Awan marah sekali setelah Ani menyambutnya tanpa penutup kepala ketika ia pulang sekolah dengan mobil jemputan.
. “Awan tidak suka Bunda botak, teman-teman di mobil mengejek dan aku malu…”
. Dengan sedih, Ani mencoba memberikan pengertian bahwa tak perlu ia risau karena teman-teman itu mengatakan demkian tanpa mengerti apa yang terjadi pada kita.
. Kesedihan Ani tak menyurutkan semangatnya dalam menghadapi semua ini. Ia tabah, berpikir positif dan memiliki rasa humor yang tinggi.
. Hal lain yang digarisbawahi oleh Ani adalah hak-hak pasien. Ia menekankan bahwa pasien kanker harus memperjuangkan hak-hak mereka, yaitu:
1. Hak atas informasi.
2. Hak memberikan persetujuan
3. Hak memilih dokter
4. Hak memilih Rumah Sakit
5. Hak atas rahasia kedokteran
6. Hak menolak pengobatan
7. Hak menolak tindakan medis tertentu
8. Hak untuk menghentikan pengobatan
9. Hak atas second opinion
10. Hak melihat rekam medis (medical report).


/lym 18/10/2009
Sumber :http://rumahkanker.com