Wednesday, October 14, 2009

Menyimpan Luka Untuk Diri Sendiri


Selama perang dunia kedua, ada satu kesatuan pasukan bertemu dengan pasukan musuh dan terjadi kontak senjata di dalam sebuah hutan, akhirnya terdapat dua orang prajurit yang kehilangan kontak dengan kesatuannya. Dalam peperangan itu mereka bisa saling menjaga dan akrab sekali oleh karena mereka adalah teman seperjuangan yang datang dari desa yang sama.

Mereka berdua berjalan dengan susah payah di dalam hutan, saling memberi semangat dan saling menghibur. Sepuluh hari lebih telah lewat, mereka masih juga belum bisa menghubungi kesatuannya, sangat beruntung sekali, mereka bisa mendapatkan seekor rusa, dengan menggantungkan daging rusa mereka masih bisa bertahan hidup untuk beberapa hari lagi.

Mungkin disebabkan oleh situasi perang, binatang-binatang tersebut habis terbunuh semua atau pindah ke tempat lain, karena setelah mendapatkan rusa itu mereka tidak menjumpai binatang apapun lagi. Daging rusa yang tinggal sedikit, dipikul oleh prajurit muda itu diatas punggungnya.

Hari itu, mereka berdua menjumpai musuh didalam hutan, dan sekali lagi mengadakan kontak senjata dengan mereka, setelah itu dengan cerdik mereka berdua menghindari musuh-musuh itu.

Tepat ketika mereka berdua merasakan sudah dalam keadaan aman, terdengar sebuah letupan senjata, prajurit muda yang berjalan di depan terkena tembakan itu, beruntung sekali tembakan itu hanya mengenai lengannya. Teman seperjuangan yang berada di belakang dengan gugup dan ketakutan berlari menghampirinya, temannya itu terlalu ketakutan sehingga mengeluarkan kata-kata yg tak keruan, memeluk tubuhnya dan tak henti-hentinya mengalirkan air mata, dia cepat-cepat menyobek bajunya untuk dibalutkan pada luka di lengan temannya itu.

Malam harinya, prajurit yang tidak terluka itu dengan kedua mata terpaku, mengigau tentang ibunya, mereka mengira riwayat mereka segera akan tamat, daging rusa yang terletak dipinggir mereka tidak ada seorangpun yang ingin menyantap. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana mereka melewatkan malam itu. Keesokan harinya,mereka ditolong oleh kesatuannya.

Peristiwa ini telah berlalu selama 30 tahun, Anderson prajurit yang terluka itu berkata, "Saya tahu siapa yang telah melepas tembakan itu, dia adalah teman seperjuangan saya. Tahun lalu dia telah meninggal dunia. Ketika dia memeluk saya, saya menyentuh laras senjatanya yang masih panas, tetapi pada malam itu juga saya telah memaafkan dia. Saya tahu dia ingin memiliki daging rusa yang saya bawa itu untuk mempertahankan hidupnya, tetapi saya juga tahu dia ingin mempertahankan hidup demi ibunya. Setelah kejadian tersebut, selama 30 tahun saya berpura-pura sama sekali tidak mengetahui akan hal itu, juga sama sekali tidak pernah menyinggungnya."

"Perang itu sungguh sangat kejam, akhirnya ibunya juga tidak keburu menunggu dia pulang dari medan perang, saya bersama-sama dia pergi bersembahyang kepada ibunya. Dia berlutut dan memohon saya untuk memaafkan dirinya, saya mencegah dia untuk melanjutkan perkataannya. Kami melanjutkan pertemanan selama 20 tahun lagi. Saya tidak beralasan untuk tidak memaafkan dia."

Manusia, bisa bertoleransi kepada orang lain atas kekerasan kepalanya, atas kesombongannya,atas ketidak tahuan dirinya, akan tetapi sulit untuk memberi toleransi kepada orang yang berniat jahat untuk memfitnah dan kepada orang yang telah memberi luka yang mematikan.

Tetapi hanya dengan kebajikan membalas permusuhan, menyimpan luka itu untuk diri sendiri,membiarkan dunia ini berkurang sedikit kemalangan, kembali kepada kehangatan, belas kasih, keramahan dan kedamaian, ini barulah taraf tertinggi dari toleransi. (The Epoch Times/lin)


Sumber : http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/4157-menyimpan-luka-untuk-diri-sendiri

/lym 13/10/2009

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.