Sunday, October 18, 2009

First Lady



SEINGAT saya sewaktu masih tinggal bersama orangtua, Ibu saya membeli sebuah pajangan dengan tulisan yang secara garis besar menyatakan, bahwa di balik kesuksesan seorang pria selalu berdiri seorang wanita di belakangnya. Saya tak tahu apakah Ibu saya berniat menyindir suaminya, atau malah memakai pajangan itu untuk senantiasa memelekkan mata suaminya, kalau dia itu juga punya andil dalam merancang kesuksesan masa depan sang kekasih hati. Saya benar-benar tak tahu. Waktu itu saya masih kecil, cuma bisa membaca tanpa tahu maknanya.

Sampai sekarang pun maknanya belum tentu benar. Tapi saya menyimpulkan kalau wanita itu diciptakan sebagai tulang punggung laki-laki. Jadi bukan sebaliknya. Beda dengan cerita penciptaan hawa yang diambil dari tulang rusuk Adam. Kalimat itu terukir dalam dan tak terhapuskan di benak saya. Setelah menjalani hidup nyaris setengah abad, saya harus akui bahwa pajangan itu benar adanya. Banget, benernya!

Ibu Negara Sebagai Merek dan PR

W
anita itu diciptakan sudah dengan kemampuan multitasking, yang tidak dimiliki pria. Mau dia ibu negara atau ibu rumah tangga. Bahkan ibu rumah tangga biasa, juga adalah first lady buat keluarganya.

Dengan keperempuanannya itulah multitasking itu bisa terjadi. Salah satunya bisa diwujudkan dalam cara berdandan. Sebagai pasangan hidup, apa yang dikenakan, itu mencerminkan isi hati dan cerminan seluruh keluarga. Karena setiap gerak seorang ibu atau istri, selalu harus mendapat restu dari seluruh keluarga, bukan?

Jadi kalau kita melihat para First Lady macam Jackie O, Mbak Carla Bruni atau Bu Obama berdandan, maka itulah yang diaminkan keluarga masih-masing, selain juga faktor kepribadian mereka. Paduan kedua faktor ini, yang akan menjadi cermin dan dilihat masyarakat. Hasilnya bisa dicacimaki, atau sebaliknya.

Cara berpakaian itu mirip merek sebuah produk tertentu. Ada yang disebut brand experience. Nah kalau pengalaman dengan mereknya oke, maka okelah perjalanan seterusnya. Tapi kalau sebaliknya? Saya tak perlu memberitahu. Mulut Anda sudah pasti menjadi corong kebangkrutan untuk merek itu, bukan? Selain itu, cara berpakaian para istri presiden, juga merupakan sebuah eksekusi public relations (PR). PR untuk seluruh keluarga dan partai politik sang suami dan negara.

Dan itu yang akan membuat perbedaan distinctive antara Ibu Negara yang satu, dengan yang lainnya. Yang membedakan Mbak Carla yang aduhai dan Bu Obama yang biasa-biasa saja. Atau Jeung Jackie yang disebut-sebut fashionable itu.

Perkenalkan, Nama Saya Carla
Saya ambil contoh konkret, First Lady Prancis, Mbak Carla, yang juga mantan model. Untuk penampilan sebagai Ibu Negara, ia tak keberatan berpose di luar dari kebiasaan pose seorang First Lady.

Saya melihat di majalah Vanity Fair terbitan September 2008, ia diabadikan berpose sambil merokok. Itu belum membaca kehidupan masa lalunya yang cihui meski ia katanya juga keturunan bangsawan. Saya kok malah diingatkan dengan film Lady Chatterleys’s Lover-nya Sylvia Kristel tahun 1981 dan novelnya DH Lawrence 1928 dengan judul yang sama.

Saya yang bukan warga negara Prancis berpikir dua kali menyebut dia Lady. Kalau Firstnya oke lah. Tapi Lady? Waduh saya bukan berniat menghakimi, sama sekali tidak. Tetapi sejauh saya tahu, istilah itu dipergunakan untuk seseorang yang perilakunya patut dicontoh. Menjadi inspirasi atau contoh yang positif untuk orang lain. Apalagi ia juga berstatus bangsawan.

Nah, saya sendiri tak tahu apakah gayanya itu sesuatu yang bisa dijadikan sebuah contoh yang baik, karena kalau mengingat billboard rokok, selalu saja ada peringatan bahayanya merokok. Kok ya ini, Ibu negara memberi contoh yang nggak-nggak? Tetapi itu Carla, dia mem-PR-kan diri dan keluarga barunya seperti itu. Dan diaminkan.

Mungkin juga Carla atas restu suaminya, sedang mendobrak aturan main seorang Ibu Negara. Mungkin ia juga sedang menyindir, Ibu Negara itu gak perlu sok seperti Lady kalau memang pada dasarnya bukan Lady. Macam dirinya.

Ia juga tak keberatan menjadi billboard berjalan rumah mode Dior, yang menyuplai kebutuhan penampilannya. Mengapa Dior, bukan Chanel atau rumah mode lainnya? Karena itu yang direstui sang suami yang berteman dengan pemilik rumah mode Dior. Mungkin saja, dengan demikian, ia bisa mengirit jatah uang belanja pakaian sebagai istri presiden. Tak sampai harus dipancung macam Marie-Antoinette sebagai a big spender dalam berpakaian.

Kasihan di masa Marie-Antoinette, rumah mode Dior belum eksis, dan tampaknya tak ada rumah mode di masa itu yang bisa mensponsori kebutuhan penampilannya. Coba saja ada, dia mungkin bisa menyelamatkan kepalanya. Meski buat saya, ia justru punya kontribusi mulia, karena mampu membuat Prancis kondang karena adibusananya. Ia seorang pahlawan. Mati untuk adibusana.

Setelah saya melihat gambar-gambar di majalah tersebut, Ibu Negara itu mungkin tak bisa seenaknya menjadi diri sendiri, seperti ibu rumah tangga biasa. Apalagi kalau sudah ada di ruang publik. Ia mewakili negara, bukan hanya sekedar anggota keluarga. Negara itu penduduknya saja lebih dari keluarga.

Saya tak tahu apakah Carla akan bernasib sama seperti Marie-Antoinette, selain pose yang bukan Lady, ia seolah menjadi PR mendukung kebiasaan merokok yang bisa membawa resiko ini dan itu, dan yang ketiga membuat Dior jadi lebih kondang dibandingkan rumah mode Prancis lainnya yang tak dapat jatah promosi yang sama.

Padahal kan dia katanya Ibu Negara Prancis, seharusnya tak bisa pilih kasih. Ibu Negara macam apa yang pilih kasih untuk anak-anaknya sendiri? Yang mendukung sebuah kebiasaan buruk? Tapi kalau itu terjadi, lucu juga membayangkan Karl Lagerfeld untuk Chanel, Alber Elbaz untuk Lanvin, Marc Jacob untuk Louis Vuitton dan sekian desainer lainnya plus organisasi anti rokok termasuk WTT (Wanita Tanpa Tembakau) nya Indonesia, demo di depan istana kepresiden sambil membawa spanduk, dengan yel-yel. Go to .... (mohon diisi istilah yang kira-kira menurut anda pas untuk perilaku “Lady” Carla)!

/lym 17/10/2009
Teks : Samuel Mulia
Sumber : http://www.aplausthelifestyle.com