Monday, October 5, 2009

Dahsyatnya Rangkaian Kata


Belajar menulis baru beberapa bulan ini dijalani, yang terpicu dengan suatu keadaan ... yang ingin disampaikan. Menulis saat itu bukan saja bisa mengekspresikan segala perasaan, tapi juga dapat meringankan beban ,menjadi terapi jiwa ...sekaligus melunakkan hati.

J.K Rowling (Penulis Harry Potter) memotivasi tuk menulis “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Itulah yang saya lakukan.”

Seorang Lawyer Sahabat saya, pernah menulis dalam jejaring sosial saya bahwa “peran sebuah kata begitu dahsyatnya bila dirangkai ... dan tandas masuk di relung hati”.

Bahasa yang dipakai awalnya adalah kata hati saja... dan tak memperhatikan aturan/terms/bentuk bagaimana menulis dengan bahasa yang baik..yang terpenting waktu itu adalah apa yang ada di dalam pikiran/sanubari bisa “termuntahkan”.

Untuk mendokumentasikan semua tulisan tak mutu itu..terpikirkan membuat suatu Blog, yang memang sudah lama diingin. Tak memperdulikan apakah Blog ini akan dikunjungi oleh para Bloger atau dinikmati oleh para pencinta tulisan... tak pernah juga memikirkan tuk membahagiakan para pembaca dan membuat standar baru yang terlalu tinggi bahwa tiap tulisan ini HARUS BISA MENGINSPIRASI orang lain.

Karena setelah hobi menulis ini menjadi suatu “bisnis”, khawatir akan kehilangan rasa ‘fun’ itu tadi. Yang akhirnya menulis menjadi satu tindakan pembuktian diri, satu langkah untuk memaksa diri meng-inspirasi orang lain.

Namun begitu... keinginan tuk menambah kosa kata... menjadi terpacu.. hadist dan Al-Quran, berbagai buku, beragam catatan , berbagai kamus... menjadi perhatian ...ada keinginan tuk menulis dengan kata-kata yang baru.. dengan inspirasi-inspirasi yang terkandung di dalam referensi itu....

Karena itu sahabat... saya bukanlah penulis... sangat jauh dari profesi sehari-hari yang dituntut tuk banyak tahu regulation..tuk merangkai legal opini yang tidak bias...maafkan bila banyak catatan yang tak berkenan ...

Berterima kasih untuk semua komentarnya ... berterima kasih juga telah menyediakan waktunya membaca tulisan/catatan, semoga ada manfaatnya.

Akhir catatan ini, kisah yang ditulis seorang ibu di blognya http://www.rinurbad.multiply.com semoga dapat menjadi inspirasi tentang manfaat menulis sebagai terapi batin.

Empat tahun silam, saya terkapar sakit selama kurang-lebih tiga bulan. Kondisi saya begitu lemah, bahkan lebih parah daripada sewaktu keguguran, sehingga saya merasa sulit untuk bertahan dan hampir menyerah. Seorang kerabat dekat berkata, “De, kalo kamu punya beban pikiran atau masalah..jangan dipendam. Tulis buku harian, tuangkan isi hati kamu lalu robek-robek biar nggak ada yang tahu.”
Buku harian, yang sempat menjadi sahabat karib saya semasa remaja, raib dari kehidupan saya setelah menikah. Bukan salah suami, ia tak pernah melarang saya sedikit berahasia dan berusaha menampung segala keluh-kesah setiap saat. Bukan pula salah rutinitas perkawinan. Saya hanya mengira tidak membutuhkan jurnal lagi.
Saya gemar menulis surat pada diri sendiri. Tak ada yang hilang sampai sekarang. Bahkan, seperti kata dokter James W. Pennebaker dalam Ketika Diam Bukan Emas, saya merasa jauh lebih baik. Manfaat yang menjadikan saya kian cinta menulis ini membuat saya tak terlalu sulit merenungkan apa yang ingin saya tuturkan.
Apapun bentuknya, menulis adalah sebentuk pembebasan jiwa dari tekanan-tekanan dan kepahitan yang tertelan di masa lalu. Alhamdulillah, suami sangat mendukung. Ia lebih suka saya menulis daripada minum obat-obatan yang jelas sudah mengikis ketahanan fisik
saya. Dengan menulis, saya tak lagi kesepian. Saya dapat berbincang dengan diri sendiri kala suami tidak dapat mendampingi. Gangguan lambung kronis yang saya derita pun sudah jarang kambuh, kecuali bila terjadi kejutan-kejutan psikologis di luar kendali saya.“


Inspirasi :
http://www.kabarsehat.com/2009/08/menulis-sebagai-terapi-pikiran-emosi-dan-batin/

/lym 27/09/2009 @3.41 pm