Monday, October 12, 2009

Cinta Bagaikan Lengan Patah


Anak perempuan saya yang berusia 5 tahun dengan bibir gemetaran bertanya, “Jika saya jatuh sekali lagi dan lengan saya patah lagi bagaimana?”

Saya berlutut memegang erat sepedanya, dan memandang kedua matanya lekat-lekat. Saya sangat mengerti bahwa dia sangatlah ingin belajar bersepeda. Sering kali jika teman-temannya sedang bersepeda lewat di depan rumah kami, ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang dicampakkan oleh teman-temannya. Akan tetapi sejak dia terjatuh dari sepeda yang mengakibatkan lengannya patah, sikapnya terhadap sepeda adalah segan dan menjauhinya.

Saya berkata, “Sayang, saya tidak berpendapat bahwa kamu akan jatuh lagi dan mematahkan lenganmu yang satunya lagi.”

“Tapi ada kemungkinan, bukan?”, dia bertanya dengan ngotot. Saya mengakuinya, dan berusaha keras mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan kepadanya. Setiap kali menemui situasi seperti ini saya selalu berharap ada seseorang yang dapat menjadi sandaran saya, ada seseorang yang bisa mengucapkan satu alasan yang tepat, seseorang yang bisa membantu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi oleh putri saya ini.

Akan setelah melalui suatu tragedi pernikahan yang menyedihkan, yang kemudian diakhiri dengan perceraian yang menyakitkan, saya lebih cenderung untuk dapat menjadi seorang single parent, serta dengan sikap yang sangat tegas telah saya katakan kepada setiap orang yang ingin menjodohkan saya bahwa saya sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi.

“Saya tidak ingin belajar bersepeda lagi”, sembari berkata demikian, ia turun dari sepedanya. Kami berjalan ke pinggir lalu duduk di samping sebuah pohon. “Apakah kamu tidak ingin bersepeda bersama dengan teman-temanmu itu?”, saya bertanya.

“Mau”, ia mengaku. “Lagi pula ibu berharap tahun depan kamu sudah bisa bersepeda ke sekolah sendiri”, saya menambahkan.

“Saya juga berharap demikian”, nada suaranya agak gemetar. “Tahukah kamu, Sayang, ada banyak hal yang kita lakukan ini semuanya mengandung resiko. Kecelakaan mobil juga dapat mematahkan lengan kita, maka dari itu meskipun kamu duduk di dalam mobil, kamu juga bisa merasa takut. Loncat tali juga dapat membuat kita patah lengan, senam juga kemungkinan bisa patah lengan, apakah kamu lantas tidak mau berlatih senam lagi?”

“Tidak mau”, katanya. Lalu dia berdiri dengan tegar, setuju untuk mencoba lagi. Saya memegangi bagian belakang sepedanya, terus hingga dia memiliki keberanian untuk mengatakan, “Lepas!!!”.

Kemudian di suatu sore hari, saya sedang duduk di taman mengamati putri saya yang memiliki keberanian luar biasa mengatasi rasa takutnya ini. Saya memberi selamat pada diri saya sendiri yang telah berhasil menjadi seorang orang tua tunggal yang dapat menyelesaikan masalah keluarga ini seorang diri.

Sewaktu pulang ke rumah, kami mendorong sepeda berjalan menyusuri trotoar, putri saya bertanya tentang percakapan saya dan ibu tadi malam, yang didengarnya secara tidak sengaja.

“Mengapa tadi malam ibu bertengkar dengan nenek?”

Ibu saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang hendak menjodohkan saya dengan pria lain. Saya selalu menolak untuk bertemu dengan jodoh yang dicarikannya untuk saya. Dia sangat yakin bahwa Steven pasti cocok dengan saya.

“Tidak ada apa-apa”, saya katakan padanya. Dia mengangkat bahunya dan berkata, “Nenek bilang dia hanya ingin mencarikan seseorang yang dapat menyayangi ibu”.

“Nenek ingin mencarikan seseorang yang dapat melukai hati ibu”, saya menjawab dengan ketus. Saya sangat marah pada ibu saya karena menceritakan masalah ini kepada putri saya, cucunya.

“Akan tetapi, Mama…”, sepertinya putri saya ingin menasihati saya.

“Kamu masih kecil, tidak akan mengerti”, saya menyela perkataannya.

Selanjutnya dia berdiam diri selama beberapa menit. Kemudian ia mengangkat kepalanya, dengan suara lirih dia mengucapkan beberapa patah kata yang membuat saya merenungkannya tiada henti.

“Kalau begitu, saya pikir cinta dan patah lengan, bukanlah hal yang sama.”

Saya tidak bisa menjawab, sisa perjalanan ke rumah kami lanjutkan dengan penuh kebungkaman. Setelah sampai di rumah, saya menelepon ibu, mengecam dirinya yang tidak seharusnya menceritakan masalah ini pada cucunya. Selanjutnya saya telah berbuat satu hal yang sama beraninya dengan putri saya, saya menyetujui untuk bertemu dengan Steven.

Steven adalah pilihan yang tepat untuk saya, sekitar satu tahun yang lalu kami telah menikah. Akhirnya terbukti bahwa ibu dan anak saya adalah tepat. (The Epoch Times/lin)


/lym 12/10/2009
Sumber : http://erabaru.net/kehidupan