Sunday, October 18, 2009

Berdansa Dengan Kanker


Saya bukan seorang pemain dansa yang baik. Bahkan untuk dikatakan bisa berdansa pun sebenarnya saya termasuk kategori tidak bisa berdansa. Tapi saya suka melihat orang berdansa.

Apa hubungannya dansa dengan kanker?
Saya memiliki banyak sahabat penyintas kanker. Kami sering berkumpul, diskusi, bernyanyi, serta berjoged ataupun berdansa bersama.

Saya selalu terpesona dengan gerakan teman-teman saat mereka berdansa, karena saya tahu sebagian dari mereka ada yang kehilangan penglihatannya yang sebelah karena kanker otak, hanya memiliki satu payudara, ada juga yang paru-parunya sudah dipotong sebelah, dsb. dsb. Tapi mereka tetap bisa berdansa dengan indah.... Teman-teman begitu hebat di mata saya.

Apa yang sering kami diskusikan, menjadikan saya mencoba mengaitkan banyak hal tentang kanker yang saya lewati dalam perjalanan hidup saya dengan pelajaran tentang dansa.

Lihat siapa pasangan anda,
dengarkan alunan musik dengan seksama,
ayunkan langkah kaki hati-hati agar tidak cidera.
Anda akan berdansa dengan indah.......
seindah bangau terbang di angkasa

Itu yang melekat dalam ingatan saya tentang dansa.

Hidup dengan kanker.... bisa saya lewati bersama keluarga, pasangan hidup, dan permata hati saya (Mas Iwan & Awan.... my amazing partners), sahabat-sahabat sejati yang sangat peduli dengan saya, sahabat seperjuangan saya yang hidup dengan “Lupus” dan juga penyakit mematikan lainnya, serta teman-teman sesama penyintas semua yang bergabung di support group CISC, juga caregiver saya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu dengan kehidupan yang tetap indah.

Kami selalu belajar mengenali pasangan dansa kami yang bernama “kanker” dengan sikap hidup yang positif.

Tak terasa waktu telah berlalu. 2 tahun yang lalu saya mastektomi dan saya masih hidup hingga saat ini. Saya masih menyaksikan matahari terbit. Saya masih mampu menghirup udara segar di pagi hari. Terima kasih Tuhan.... Ketika saat itu dokter dengan perhitungan medis memberikan saya vonis 3 minggu sampai 3 bulan, Engkau memiliki suratan takdir yang berbeda untuk saya.

Menjalani hidup sebagai penyintas kanker laksana berdansa. Saya belajar memahami secara detail pengetahuan tentang kanker yang melintas dengan sangat sopan (tetapi biadab ha-ha-ha.....) di sel-sel yang berkembang di tubuh saya. Saya persiapkan segala hal yang mungkin terjadi sebelum memasuki panggung untuk pementasan sebuah kehidupan yang indah, bahkan saya mulai menyiapkan untuk kehidupan yang jauh lebih indah setelahnya....

Saya harus menyiapkan diri sebagai pemain yang baik dan profesional agar apa yang saya jalani tetap indah. Saya harus peka dengan bisikan sekecil apapun yang terdengar oleh tubuh saya, baik itu bisikan hati ataupun bisikan informasi dari luar diri saya dengan sebaik-baiknya. Saya mengasumsikan ini sebagai musik yang mengiringi pementasan dansa saya saat berpasangan dengan kanker. Saya harus tahu apakah alunan musik itu cepat, lambat, atau sangat cepat atau mungkin sangat lambat karena ini akan sangat berpengaruh terhadap ayunan langkah kaki saya di atas pentas.

Bagaimana jika musik yang berputar seringkali berubah iramanya?

Ini sering saya alami. Tiba-tiba saya tak berdaya, mual, mules, demam, dan sebagainya.... ha-ha-ha... tentunya sebagai pemain dansa yang berpasangan dengan “kanker” saya tahu bagaimana mengatasinya. Setidaknya saya telah mengingat dan menempel nomor-nomor penting yang dapat saya hubungi saat-saat emergency. Saya menyimpannya mulai dari dompet, tas, buku harian, mobil, kamar mandi, ha-ha-ha lengkap deh pokoknya.

Saat musik yang mengalun iramanya “mual”, saya menyeduh teh chamomile/peppermint atau makan buah prune kering untuk menguranginya. Saat kegelisahan menyusup di relung hati saya, sajadah sudah terpasang dan siap untuk dipakai bersujud. Tak hanya itu, kursi meditasi pun setia berada di sudut rumah yang paling saya sukai. Begitu pun saat persendian dan tulang di tubuh terasa ngilu dan nyeri, saya akan berbaring dan melakukan relaksasi semaksimal yang mungkin dapat saya lakukan.

Tak pernah saya lewatkan, menyertakan Dia yang menghidupkan dan mematikan saya dalam setiap langkah yang saya ambil, karena saya tidak mau cidera (lagi).....

Apapun itu Tuhan.... saya bersyukur bisa berdansa dengan kanker dan tampil dalam panggung kehidupan ini. Life is beautiful....


/lym 18/10/2009
Sumber : http://rumahkanker.com